Jumat, 16 Desember 2011

sutta pitaka


RINGKASAN SUTTA

Diggha Nikaya adalah kumpulan khotbah panjang sang Buddha yang terdiri dari 34 sutta, dibagi menjadi 3 vagga, (a) silakhanda vagga bagian moralitas yang terdiri dari 13 sutta (b) Maha vagga bagian besar yang terdiri dari 10 sutta dan (c) Pathika vagga bagian yang diawali dengan khotbah pathika dan pertapa telanjang terdiri dari 11 Sutta.


A. Silakhanda Vagga

1.      Brahmajala Sutta
Dibabarkan: Sang Buddha kepada para bhikkhu di ambalatikka, Rajagaha
Latar belakang: perbincangan antara Suppiya Paribbajaka (menjelek-jelekan Sang Tiratana) dengan muridnya Brahmadatta (memuji-muji Sang Tiratana).
Intinya:
a.       Sang Buddha mengatakan bila seseorang menghina Tri Ratna janganlah kamu membenci, dendam atau memusuhinya, karena akan menghalangi pembebasan diri tetapi harus menyatakan apa adanya
b.      Bila seseorang memuji Tri Ratna janganlah kamu bangga, gembira dan bersuka cita, karena akan menghalangi pembebasan diri tetapi harus menyatakan apa adanya.
c.       Sang Buddha menguraikan tentang cula sila, majjhima sila, dan maha sila
d.      Sang Buddha menjelaskan tentang 62 pandangan salah yang banyak dianut oleh orang di dunia, yaitu:
1.      18 pandangan masa lampau
a)      4 pandangan eternalis yaitu atta dan loka adalah kekal (Sasatta ditthi)
b)      4 pandangan semi eternalis yaitu atta dan loka sebagian kekal dan sebagian tidak kekal (Ekaccha Sasatha Ditthi)
c)      4 pandangan ekstensionis yaitu pandangan yang menyatakan bahwa atta dan loka terbatas dan tidak terbatas (antananta ditthi)
d)     4 pandangan yang berbelit-belit yaitu pandangan yang menjawab pertanyaan secara berbelit-belit, membingungkan (amaravikkhepika vada).
e)      2 pandangan tentang asal mula segala sesuatu terjadi secara kebetulan (addicchasamupana vada).
2.      44 pandangan yang berkaitan dengan masa yang akan datang
a)      16 pandangan setelah meninggal atta kesadaran tetap ada (uddhamagathanika sannavada)
b)      8 pandangan setelah meninggal atta tanpa ada kesadaran (uddhamagathanika asanivada)
c)      8 pandangan setelah meninggal atta ada kesadaran dan tidak ada kesadaran (uddhamaghatanika nevasanninasannivada)
d)     anihilasi: 7 pandangan yang menyatakan bahwa pandangan/kesadaran itu hancur, lenyap, binasa (ucchedavada)
e)      5 pandangan tentang pencapaian kebahagiaan mutlak dalam kehidupan sekarang (ditthidhamma nibbanna vada)
Ada empat jenis tumimbal lahir, yaitu:
a.       jalabuja yoni: melalui kandungan
b.      andaja yoni: melalui telur
c.       sansedaja yoni: melalui kelambanan
d.      oppapatika yoni: secara spontan

Pada akhir uraian para bhikkhu menanyakan tentang khotbah ini dan sang Buddha menjawab dapat dinamakan Atthaja, Dhammajala, Brahmajala, Ditthijala, atau Sangama vijano.

2. Samanna Phala Sutta
Dibabarkan: Sang Buddha kepada raja ajatasathu di hutan (ambavana) milik jivaka komarabaccha di rajagaha
Latar belakang: pertanyaan raja ajatasathu tentang faedah yang nyata dari kehidupan seorang samana
Intinya: sang Buddha menjelaskan pahala seorang samana pada masa sekarang ini, yaitu:
  1. ia memiliki sila yang sempurna
  2. memiliki pengendalian terhadap indera
  3. memiliki perhatian murni dan perhatian jelas
  4. mempunyai kepuasan terhadap empat kebutuhan pokok
  5. mempunyai pikiran yang bebas dari nafsu keinginan
  6. memperoleh/mencapai jhana
  7. mempunyai pengetahuan tinggi (vijja)

raja ajatasatthu menceritakan beberapa pendapat pertapa yang lain , yaitu:
a.       purana kassapa
Ia menerangkan teori Akiriyavadda (tiada perbuatan) dalam perbuatan dana, mengendalikan diri, menjaga indera-indera dan berbicara benar, tiada suatu tindakan dari perbuatan itu, atau dengan kata lain tiada penambahan kebajikan
b.      Makkhali Gosala
Ia menerangkan teori tentang samvara suddhi (penyucian melalui proses samvara). Bahwa seseorang yang mengembara dalam samvara pada akhirnya akan terbebas dari penderitaan selama batas waktu tertentu. Ia juga menerangkan bahwa tidak ada sebab ataupun dasar dari adanya makhluk-makhluk.

c.       ajita kesakambala
Ia menerangkan teori ucchedavada (pemusnahan). Hal ini diterangkan bahwa ornagn bodoh dan bijaksana adalah sama, setelah mati mereka akan hancur, musnah dan selanjutnya tidak ada kelahiran kembali, tidak ada yang dinamakan sedekah, pengorbanan/persembahan, dunia ini, dunia sana, ayah, ibu, kelahiran mellaui rahim, orang tua dan tiada pertapa yang mencapai kesempurnaan.

d.      pakuddha paccayana
Ia menerangkan suatu pendapat yang sama sekali menyimpang dari persoalan itu. Bahwa tujuh kelompok dasar tidak dibuat, diciptakan, tidak menghasilkan, tidak bergerak, tidak berkembang, tidak menyebabkan keenakan, kesakitan maupun keduanya. Ketujuh kelompok dasar itu adalah tanah, air, api, udara, kenikmatan, kesakitan dengan factor kehidupan sebagai yang ketujuh.

e.       Nigantha Nataputta
Ia menerangkan teori pengendalian diri/Catuyama samvara, yaitu:
1.       seorang nigantha hidup mengendalikan diri dari semua air-bebas dari iaktan/penderitaan (nigantha)
2.       seorang nigantha menggunakan air, seseorang yang batinnya telah berada dalam pencapaian tujuan (Gatthato)
3.       seorang nigantha menyingkirkan semua air, orang yang batinnya telah terkendali (Yatthato)
4.       seorang Nigantha melumuri semua air, orang yang batinnya terpusat (Thitato)

f.       sanjaya belathaputta
ia menerangkan pandangannya yang berbelit-belit tentang apakah ada/tiak/bukan ada dan bukan tidak ada  dunia lain, makhluk opapatika, dari hasil perbuatan baik dan buruk, setelah meninggal adanya kehidupan atau tidak.

Pengetahuan tinggi terdiri dari:
1.       pubbenivasas nusatinana: kemampuan melihat tumimbal lahir berulang-ulang
2.       vippasana-nana: kemampuan/pengetahuan tentang hakikat kehidupan ini
3.       manomaya-iddhi: kekuatan menciptakan pikirannya untuk kepentingan sendiri
4.       Dibba-cakkhu: kemmapuan untuk melihat alam lain dan melihat muncul lenyapnya makhluk-makhluk
5.       Dibbasota: kemampuan untuk mendengarkan semua makhluk dari alam lain
6.       iddhividdhi: kesakitan yang masih bersifat duniawi
7.       ccetto-pariyannana: kemampuan untuk membaca pikiran orang lain
8.       asavakayanana: kemampuan untuk menghancurkan kekotoran batin

raja ajatasathu meninggal tempat dan tidak memiliki Mata Dhamma (Dhamma-Cakkhu) karena telah membunuh ayah sendiri hanya merasa amat terpengaruh dan hatinya tersentuh.

3. Ambattha Sutta
Dibabarkan: sang Buddha kepada brahmana ambattha di hutan icchanankhala
Berkenaan: ambattha diperintahkan brahmana pokharasadi (gurunya) untuk menyelidiki ke-32 tanda sang Buddha, apakah sesuai atau tidak.
Intinya:
  1. Menelusuri garis keturunan dari ambattha yang berasal dari Kanhayana, dijelaskan bahwa nenek moyang dari ambattha adalah suku kanhayana yang apda waktu itu merupakan pelayan dari raja okkaka dan menikah dengan putrid dari raja okkaka yang bernama kudarupi dan tidak lain adalah nenek moyang dari suku sakya.
  2. Adanya empat kasta yang berlaku pada masa itu dan seperti yang dikatakan oleh ambattha kepada sang Buddha dengan kata-kata sebagai berikut “Gotama, ada empat kasta (Vanna) yaitu: khattiya, brahmana, vessa, dan suddha dan diantara keempat kasta ini, gotama, tiga kasta yaitu katiya, vessa dan suddha sesungguhnya adalah eplayan dari kaum brahmana. Dari kata-kata ini jelaslah bahwa kaum brahmana dianggap sebagai kaum yang paling terhormat dalam system kemasyarakatan pra buddhis atau kemasyarakatan kaum brahmana.
  3. Menanggapi pernyataan ini kemudian oleh sang Buddha dijelaskan bahwa orang akan mencapai kesempurnaan tidak ada hubungannya dengan kelahiran, keturunan, perkawinan dan kepahaman, tetapi dari kesempurnaan pengetahuan dan kesucian tingkah laku, selain itu sang Buddha juga menjelaskan tentang kesempurnaan sila, penjagaan pada pintu indria. Merasa puas dengan ke 4 kebutuhan pokok seorang samana (sadhara santhuti), panca nivarana dan dhamma secara berurutan serta dhamma yang hanya diperoleh oleh seorang Buddha.
  4. Panca nivarana: kammachanda, Byapada, Thina-middha, Udhaca-kukucha, vichikicca.
Pada kahir pokkarasadi memuji sang Buddha dan menyatakan perlindungan kepada tri ratna beserta keluarganya.

4.      Sonadanda Sutta
Dibabarkan: sang Buddha kepada brahmana sonadanda ketika berada di danau ganggara di campa negeri anga
Berkenaan: pertanyaan sonadanda tentang sifat apa yang saja yang dimiliki seseorang agar dapat diakui sebagai brahmana
Inti:
  1. Sang Buddha menjelaskan syarat-syarat seseorang dapat di akui sebagai brahmana
  2. Menjelaskan 3 kategori moralitas (cula sila, majjhima sila, dan maha sila)
  3. Pencapaian 4 jhana serta kecakapan 8 jenis pengetahuan yang lebih tinggi, yaitu:
v  Vipasananana: pandangan terang
v  manomaya iddhi: menciptakan dengan kekuatan pikiran
v  iddhividdhi: perbuatan-perbuatan jasmani
v  dibbasota: telinga dewa
v  cetopariyanana: membaca pikiran
v  pubbenivasanusatinana: mengingat kehidupan lampau
v  dibbacakkhu: mata dewa
v  asavakayanana: penghancuran kekotoran bati

5.      Kutadanda Sutta
Dibabarkan: sang Buddha kepada brahmana kutadanda di mangga di kerajaan magadha
Berkenaan: pertanyaan brahmana kutadanta tentang upacara pengorbanan
Intinya:
Sang Buddha memberikan wejangan tentang upacara pengorbanan yang mudah dilaksanakan serta menghasilkan pahala yang besar dan kemajuan yang lebih baik, yaitu:
  1. melakukan dana secara terus-menerus kepada samana yang melaksanakan sila
  2. membangun tempat-tempat suci atau vihara
  3. berlindung kepada sang tiratana
  4. dana yang dilakukan dengan melaksanakan sila
  5. melaksanakan meditasi sehingga mencapai jhana-jhana I, II, III, dan IV serta menaklukkan sepuluh belenggu-belenggu batin (dasa samyojana).
Pada akhir khotbah brahmana kutadanda berlindung kepada tri ratna serta mencapai tingkat sotapana.
6.      Mahali Sutta
Dibabarkan: sang Buddha mahali otthaddha penguasa Licchavi ketika berada di kutagara sala, mahavana, vesali
Latar belakang: berkenaan dengan para wakil brahmana dari kosala dan magadha yang mengunjungi sang Buddha dan mengulang kembali pernyataan sunnakatha licchavi putta “walaupun hanya 3 tahun saya dibimbing sang Buddha dengan melihat makhluk-makhluk surga, menyenangkan, memuakan keinginan, mempesona tetapi saya tidak dapat mendengar suara surgawi dari makhluk-mkhluk tersebut.
Inti:
  1. Sang Buddha menjelaskan secac sunnakatha tidak dapat mendengarkan suara karena dalam meditasinya dia hanya mengembangkan satu cara tertentu (ekasambhavito) dengan objek melihat makhluk-makhluk surgawi pada satu arah tertentu
  2. Bila seseorang melaksanakan meditasi dengan objek berpasanagn melaihat dan mendengar pada salah satu arah maka ia dapat melihat makhluk surgawi dan mendengar suara-suara surgawi
c.   Ada hal yang lebih tinggi dan mulia yang dilaksanakan para bhikkhu:
Ø  seorang bhikkhu yang mampu melenyapkan samyojana dan mencapai tingkat-tingkat kesucian
Ø  seorang yang mampu merealisasikan jalan berunsur delapan (athangika magga)
Ø  seorang yang meninggalkan keduniawian dan mengendalikan diri sesuai patimokkha
Ø  seorang bhikkhu yang dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahan yang paling kecil sekalipun
Ø  seorang bhikkhu yang menyempurnakan perbuatan dan ucapannya
Ø  seorang bhikkhu yang terjaga pitu-pitu inderanya
Ø  seorang bhikkhu yang mempunyai perhatian murni dan pengertian jelas
Ø  seorang bhikkhu yang merasa puas
d. Seorang bhiikhu yang mempunyai sila sempurna:
Ø  menahan diri dari pembunuhan
Ø  menjauhi dusta, bicara kasar, dusta, fitnah…
Ø  menahan diri tidak merusak benih-benih dan tumbuh-tumbuhan
Ø  menahan diri untuk tidak ikut dalam pertunjukkan (permainan acrobat, adu banteng, pertandingan tinju, gulat)
Ø  menahan diri untuk tidak terikat dengan aneka permainan (permainan catur dengan papan berpetak, permainan lempar dadu, menebak pikiran teman bermain)
Ø  menahan diri untuk tidak menggunkan aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah (seprai dari wol, seprei dengan sulaman permata, sutra, selimut kulit kijang yang dijahit, dll)
Ø  menahan diri dari pemakaian perhiasan dan alat-alat untuk memperindah diri (pemerah pipi, kalung, bedak wangi, dll)
Ø  menahan diri dari percakapan-percakapan yang rendah (percakapan tentag hantu-hantu jaman dulu, perccakapan tentang wanita, percakapan tentang wangi-wangian, dll)
Ø  menahan diri dari tindakan-tindakan peniluan (meramal tanda-tanda untuk memperoleh keuntungan)
Ø  menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara yang salah melalui ilmu-ilmu rendah (meramal dengan melihat guratan tangan, meramal dengan membaca alamat, meramal dengan membaca tanda mimpi, dll)
  1. Sang Buddha menjelaskan apabila seorang bhikkhu dapat melaksanakan latihan secraa bertahap akan memperoleh:
Ø  Jhana I
Ø  Jhana II
Ø  Jhana III
Ø  Jhana IV
Ø  Iddhi viddha
Ø  Dibbsota
Ø  Dibbacakkhu
Ø  Pubbenivasanusatinana
Ø  Asavakayanana

7. Jaliya Sutta
dibabarkan: sang Buddha kepada petapa pengembara Mandissa/Mundiya dan pertapa hidup dari Patta Jaliya saat berada di ghositarama, Kosambi
berkenaan: pertanyaan apakah jiwa sama ddengan jasmani, atau jiwa adalah hal lain dan jasmani adalah hal yang lain
Inti:
1.      sang Buddha menerangkan pembebasan tidak akan mempertimbangkan tentang jiwa dan tubuh jasmani lebih ditekankan pada sila/moral dan pengetahuan yang sempurna
2.      purana kassapa menerangkan tiada perbuatan (akiriyavada) suatu tindakan jahat/baik akibat dari perbuatan itu, tidak ada penambahan kesalahan
3.      makhali gosala, ajita kesakambala, pakudha kaccayana, nigantha nataputta, dan sanjaya belathaputta (sama dengan samanaphala sutta)
4.      sang Buddha membabarkan tentang lima rintangan (pancanivarana) belum disingkirkan, seorang bhikkhu merasakan dirinya seperti orng yang berhutang, terserang penyakit, dipenjara, menjadi budak, melakukan perjalanan di padang pasir
5.      setelah lima rintangan itu di singkirkan, maka seorang bhikkhu merasa dirinya seperti orang yang telah bebas dari hutang, bebas dari penyakit, keluar dari penjara, bebas dari perbudakan samapi di tempat yang aman.
6.      demikianlah ia mengerti: tubuhku ini mempunyai bentuk, terdiri atas empat usur pokok (maha bhuta), berasal dari ayah dan ibu, timbul dan berkembang karena perawatan yag terus-menerus, bersifat tidak kekal, dpaat mengalami kerusakan, kelapukan, kehancuran, kematian, begitu pula halnya dengan kesadaran (vinnana) yang terikat dengannya.
7.      pertapa pengembara mandisso dan pertapa hidup dari Patta jaliyo menjadi gembira.
Pada akhir khotbah Otthaddho Licchavi menjadi gembira
8.      Mahasihanada Sutta
Dibabarkan: sang Buddha ketika sedang berdiam di taman rusa kannakathala di urunna
Latar belakang: pertapa telanjang kasssapa mendatangi sang Buddha dan mengatakan bahwa samana dan brahmana yang sejati hanyalah pertapa yang menjalankan kehidupoan ekstrim.
Inti:
    1. syarat-syarat seseorang dikatakan seorang dan brahmana yang sejati
    2. sang Buddha menjelaskan kesia-siaan penyikasaan diri yang ekstrim/ keras dan menyatakan bahwa seseorang pertapa/samana harus terampil dalam moralitas, konsentrasi, pengetahuan dan pengembangan cinta kasih, berdiam dalam kebebasan pikiran dan lewat pengetahuan
pada akhir khotbah kassapa memutuskan untuk bergabung dengan sang Buddha.

9.      Pothapada Sutta
Dibabarkan: sang Buddha ketika berada di vihara anathapindika di hutan jeta, di savathi
Latar belakang: pertapa potthapada bertanya tentang lenyapnya kesadaran (sanna) dan ingin mengetahui sejati yang  benar-benar membawa ke alam brahma.
Inti: praktek-praktek menjalankan sila, dan pengembangan konsentrasi yang menghasilkan muncul dan lenyapnya jhana-jhana secara berurutan, pengembangan cinta kasih, kasih saying, kegembiraan yang bersimpati, dan kesenangan terhadap semua makhluk.

10.  Subha Sutta
Berkenaan: setelah sang Buddha parinibbana dan dibabarkan oleh bhikkhu ananda ketika berada di jetavana milik anatahapindika di savathi.
Latar belakang:pertanyaan subha todeyya-putta tentang hal-hal apa yang mulia gotama biasa puji, hal mana yang beliau gunakan untuk memotivasikan, membangun mereka dan membuat mereka yakin.
Inti: bhikkhu ananda menjelaskan ada tiga kelompok yang biasanya dipuji oleh bhagava, yang digunakan belaiau untuk memotivasikan, membangun serta meyakinkan mereka. Apakah tiga hal itu? Itu adalah kelompok sila ariya (silakhanda), kelompok meditasi ariya (samadhika), dan kelompok kebijaksanaan ariya (pannakahanda).
Pada akhir khotbah subba todeyya putta memuji sang Buddha dan menyatakan perlindungan kepada Tri ratna.

11.  Kevadda Sutta
Dibabarkan: sang Buddha kepada kevaddha di pakatika nalanda
Berkenaan: permohonan upasaka kevaddha agar sang Buddha memerintahkan kepada murid/siswanya untuk menunjukkan kekuatan batin yang melebihi manusia biasa.
Intinya:
Sang Buddha memberikan uraian-uarian tentang 3 macam kejaiban:
1.      keajaiban mengesankan (iddhi patihariya)
kemampuan untuk merubah diri menjadi banyak atau sebaliknya, menghilang diri dan muncul, berjalan di air, duduk di angkasa dan lain sebagainya.
2.      keajaiban membaca pikiran orang laian (Ceto pariyanana)
kemampuan untuk membaca pikiran dan perasaan orang lain.
3.      keajaiban ajaran
kemampuan untuk mengajarkan dhamma sehingga bisa merealisasikan kebahagiaan tertinggi (nibbana).
Pada akhir khotbah upasaka kevaddha menjadi senang dan gembira.

12.  Lohica Sutta
Dibabarkan: sang Buddha ketika berada di salavatika, di daerah kosala
Latar belakang: berkenaan dengan brahmana lohicca memiliki pandangan salah tentang bila mengatakan sesuatu kepada orang lain akan sama dengan seseorang yang telah memutuskan suatu ikatan dan akan menyambungkannya kembali. Begitu pula, saya nyatakan tentang hal ini (keinginan untuk memberi tahu orang lain), adalah suatu bentuk keserakahan yang buruk (papakam-lobha-dhamma).
Inti: sang Buddha menjelaskan: (1) bila memiliki pandangan salah maka hanya ada dua kelahiran akan datang baginya, yaitu kelahiran kembali di neraka atau sebagai binatang, (2) tentang tiga macam guru yang tercela dan terpuji, yiatu:
(a)     ada guru yang ia sendiri belum mencapai tujuan dari ke-samana-an yang demi itu ia meninggalkan kehidupan rumah tangga menjadi pabbajita. Tanpa mencapai sendiri pencapaian itu, ia mengajar dhamma kepada para pendengar dengan berkata: ‘ini bermanfaat bagi anda, ini akan membahagiakan anda. Sedangkan para mendengar tidak mendengarkannya atau tidak memperhatikan apa yang dikatakannya atau batinnya tidak mantap setelah mmengatahui hal itu, mereka melakukan apa yang mereka pikirkan yang berebda dengan ajaran guru mereka. Guru seperti ini pantas dikritik berdasarkan fakta-fakta ini
(b)     ada guru yang ia sendiri belum mencapai tujuan ke-samana-an yang demi itu ia meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi pabbajita tanpa mencapai sendiripencapaian itu, ia mengajar dhamma kepada para pendengar dengan berkata “ini membahagiakan anda, para pendnegar mendengarkannya, memperhatikan pa yang dikatakannya atau batin mereka mantap setelah mereka mengrti apa yang dikatakannya, apa yang mereka lakukan adalah tidak berbeda dengan apa yang diajarkan guru mereka.
(c)     Ada guru yang telah mencapai tujuan dari ke-samana-an yang demikian itu ia meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi pabbajita. Setelah mencapai sendiri pencapaian itu, ia mengajar dhamma kepada para pendengar dengan berkata “ini bermanfaat bagi anda, ini kan membahagiakan anda, namun para pendnegar tidak mendengarkannya, tidak emmperhatikan apa yang dikatakannya, atau batin mereka tidak mantap setelah mereka mengetahui hal itu, apa yang mereka lakukan adalah berbeda dengan yang diajarkan guru mereka. Guru ini pantas dikritik berdasarkan fakta-fakta ini.
Pada akhir khotbah brahmana lohicca memuji dan menyatakan perlindungan kepada Tri Ratna sebagai upasaka.

13.  Tevijja Sutta
Dibabarkan: sang Buddha kepada vassetta dan bharadvaja di manasakata, tinggal di taman mangga di tepi sungai aciravati, tepatnya di utara manasakata.

Berkenaan: muncul percakapan tentang jalan benar dan jalan salah untuk keselamatan dan akan membimbing siapa saja yang melaksanakan untuk bersatu dengan brahma (brahma sahavyataya). Keterangan dari vasetta hal ini telah dinyatakan oleh brahmana pokkarasadi sedangkan bharadvaja dinyatakan oleh brahmana tarukkho.

Intinya:
Sang Buddha menerangkan tentang lima hal yang mengarah pada nafsu, yang disebut dalam vinaya ariya sebagai rantai atau ikatan yaitu benda-benda (rupa) yang dapat dilihat oleh mata, suara-suara yang didengar oleh telinga, bebauan yang dicium oleh hidung, rasa-rasa yang dikecap oleh lidah, sentuhan-sentuhan yang dirasakan oleh tubuh yang diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebabkan kesenangan.
Ada lima rintangan (nivarana) yang dlam vinaya ariya disebut perintang, penghalang, pengganggu atau penjerat, yaitu:
1.      nafsu indera sebagai perintang
2.      kebencian sebagai perintang
3.      malas dan ngantuk sebagai perintang
4.      keragu-raguan sebagai perintang
5.      kegelisahan sebagai perintang.

Sang Buddha mengajarkan kebenaran (Dhamma) yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan, dan indah pada akhir dalam isi maupun bahasanya.Beliau mengajarkan penghidupan suci (brahmacariya) yang sempurna dn suci. Setelah menjadi bhikkhu, hidup mengendalikan diri sesuai dengan peraturan-peraturan bhikkhu (patimokkha), sempurna kelakuan dan latihannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahannya, dpat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahan yang paling kecil sekalipun.

Ia menyesuaikan dan melatih dirinya dalam peraturan-peraturan. Menyempurnakan perbuatan-perbuatan dan ucapannya. Suci dalam cara hidupnya, kesempurnaan silanya, terjaga pintu-pintu inderanya.
Ia memiliki perhatian-perhatian seksama dan pengertian jelas (sati sampajana) dan hidup puas. Memusatkan perhatian pada pencerapan terhadap cahaya (alokasanni), lima rintangan batin (panca nivarana) sehingga mencapai jhana pertama, suatu keadaan batin yang tergiur dan bahagia (piti Sukha), yang timbul dari kebebasan, yang masih disertai dengan pengarahn pikiran pada objek (vittakha) dan mempertahankan pikiran pada objek (vicara). Seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi dan diliputi dengan perasan tergiur dan bahagia, yang timbul dari kebebasan dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidakdiliputi perasaan teriur dan bahagia itu, yang timbul dari kebebasan (viveka).
Mengembangkan batinnya dengan pikiran yang penuh cinta kasih (metta) ke seperempat bagian dunia, kesetengah dunia, ke tiga seperempat dunia dan keseluruhan dunia. Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh dengan kasih saying (karuna) keseperempat bagian dunia, kesetengah dunia, ketiga perempat dunia dan seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan dimana saja, ia secara terus menerus mengembangkan kasih sayangnya, hingga jauh bertambah luas hingga tak terbatas. Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh dengan empati (mudita) ke keseperempat bagian dunia, kesetengah dunia, ketiga perempat dunia dan seluruh dunia, Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan dimana saja, ia secara terus menerus mengembangkan empatinya hingga jauh bertambah luas hingga tak terbatas. Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh dengan upekkha (keseimbangan batin) ke keseperempat bagian dunia, kesetengah dunia, ketiga perempat dunia dan seluruh dunia, Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan dimana saja, ia secara terus menerus mengembangkan keseimbangan batinnya hingga jauh bertambah luas hingga tak terbatas.
Pada akhir khotbah brahmana vasettha dan bharadvaja memuji dan menyatakan berlindung kepada tri ratna.
B. Maha Vagga
14.  Maha Padana Sutta
Dibabarkan: sang Buddha kepada para bhikkhu di kareri kuti jetavanarama, savatthi
Berkenaan: pembicaraan tentang sebab akibatpada kehidupan lampau.
Intinya:
1.      sang Buddha menjelaskan tentang kemampuan mengingat dan mengulang kembali semua fakta kehidupan berkat penembusan dan kekuatan para dewa
2.      sang Buddha menguraikan kisah secara lengkap tantang nsag Buddha Vipasi
3.      sang Buddha menguraikan tentang kemunculan Buddha vipasi, Buddha sikkhi, Buddha vesabhu, Buddha kakusandhu, Buddha konagamana, Buddha kassapa dan Buddha gotama, yang disertai dengan uraian tentang:
a.       Kappa (massa)
b.      Golongan sosial
c.       Keluarga
d.      Usia
e.       Pohon penerangan (pohon boddhi)
f.       Dua murid utama
g.      Jumlah pengikut pertemuan agung (Sanipatta)
h.      Bhikkhu pembantu (bhikkhu upagatambaka)
i.        Ayah
j.        Ibu
k.      Kelahiran dari kerajaan.
Dengan beberapa keterangan sebagai berikut:
  1. Buddha vipasi (91 Kappa)
  2.  Buddha sikkhi (31 Kappa)
  3. Buddha vesabhu (31 Kappa)
  4. Buddha kakusandha (masa bumi sekarang)
  5. Buddha konagamana (masa bumi sekarang)
  6. Buddha kassapa (masa bumi sekarang)
  7. Buddha gotama (masa bumi sekarang)
Pada akhir khotbah para bhikkhu merasa gembira dan bersuka cita.
15.  Maha Nidana Sutta
Dibabarkan: sang Buddha kepada para bhikkhu di kota Kamassodhamma-kuru
Berkenaan: pernyataan bhikkhu ananda bahwa ajaran paticca samuppada begitu mudah.
Intinya: sang Buddha menrangkan tentang suatu rangkaian mendalam tetapi mudah ditelaah.
Hukum paticca samuppada yang terdiri atas 12 mata rantai (Nidana) tentang kondisi-kondisi dalam sebab musabab yang saling bergantungan, yaitu:
Avijja (kegelapan batin), Sankhara (bentuk-bentuk kamma), Vinnana (kesadaran), Nama-rupa (batin dan jasmani), Salayatana (enam landasan indera), Phassa (Kontak), Vedana (perasaan), Tanha (nafsu keinginan), Upadana (kemelekatan), Bhava (penjelmaan/penjadian), Jati (kelahiran), Jaramarana (kematian dan kelapukan).
Dasar ajaran paticca samuppada adalah:
“dengan adanya ini, adanya itu, dengan timbulnya ini maka timbullah itu, dengan tidak adanya ini maka tidak adanya itu, dengan 12 mata rantai (Nidana) yaitu:
1.      sang Buddha memberikan nasehat kepada bhikkhu ananda bila tidak dapat menembus ajaran paticcasamupada maka generasi yang akan datang menjadi kacau seperti benang kusut
2.      sang Buddha menjelaskan rangkaian hokum paticcasamuppada
3.      sang Buddha menjelaskan proses perwujudan adalah sebab kelahiran.
Macam perwujudan:
a.       proses perwujudan nafsu (Kama Bhava)
b.      proses perwujudan jasmani (Rupa Bhava)
c.       proses perwujudan tanpa jasmani (Arupa bhava)
4.      kemelekatan adalah sebab perrwujudan.
Macam-macam kemelekatan:
a.       kemelekatan terhadap nafsu indera (kama upadana)
b.      kemelekatan terhadap pandangan salah (ditthi upadana)
c.       kemelekatan terhadap upacara (silabata upadana)
d.      kemelekatan terhadap ajaran-ajaran tentang adanya jiwa yang kekal  (atta upadana)
e.       nafsu keinginan adalah sebab kemelekatan. Nafsu keinginan terhadap objek penglihatan, bunyi, bau, rasa, sentuhan dan bentuk-bentuk pikiran
f.       perasaan adalah sebab nafsu keinginan. Perasaan yang timbul karena kontak melalui mata, telinga, hidung, lidah, badan jasmani dan pikiran.
Sang Buddha menjelaskan ada tujuh tingkat kesadaran:
1.      makhluk yang berbeda tubuhnya dan pencerapannya (manusia, dewa, dan makhluk neraka)
2.      makhluk yang sama tubuhnya tetapi berbeda pencerapannya (dewa alam abhasara)
3.      makhluk yang berbeda tubuhnya tetapi sama pencerapannya
4.      makhluk-kmakhluk yang sama tubuhnya dan sama pencerapannya, misalnya alam dewa subhakinha
5.      makhluk yang telah melampaui semua pencerapan tentang jasmani, pencerapan tentang ketidaksenangan. Mengalihkan perhatian dari bermacam-macam pencerapan dan berikir “ruangan tanpa bats” mencapai laam ruanagn tanpa bats
6.      makhluk yang melampaui alam ruang tanpa batas  berfikir “kesadaran tanpa bats” mencapai alam kesadaran tanpa bats
7.      makhluk-makhluk yang melampauialam kesadaran tanpa batas berfikir, tanpa ada sesuatu mencapai alam kekosongan
sang Buddha menjelaskan terdapat dua alam yang tidak menyenangi kesenangan, yaitu:
1.      alam makhluk-makhluk tanpa kesadaran (Asanna-satta)
2.      alam makhluk-makhluk bukan pencerapan atau bukan tanpa pencerapan
sang Buddha juga menjelaskan delapan macam kebebasan (Attha Vimutto).
16.  Maha Parinibbana Sutta
Dibabarkan: sang Buddha kepada patih vassakara di bukit gijjhakutta, rajagaha
Berkenaan: perintah raja ajatasathu kepada patih vassakara untuk meminta nasehat sang Buddha sebelum berperang melawan suku vajji.
Intinya:
Sang Buddha memberikan khotbah tentang beberapa aspek yang paling mendasar dan penting dalam ajaran sang Buddha yaitu:
a.       tujuh syarat kesejahteraan suatu bangsa:
1.      sering berkumpul mengadakan musyawarah
2.      dalam musyawarah selalu menganjurkan perdamaian
3.      menetapkan peraturan baru dan meneruskan peraturan yang lama
4.      menunjukkan rasa hormat dan bhakti kepada orang yang lebih tua.
5.      melarang keras adanya penculikan-penculikan terhadap wanita-wanita dari keluarga
6.      menghormati tempat-tempat suci
7.      menghormati orang-orang yang patut di anggap suci
b.      tujuh syarat kesejahteraan bagi para bhikkhu:
1.      sering berkumpul dan bermusyawarah untuk mencapai mufakat
2.      dalam pertemuan itu selalu menganjurkan persatuan dan kesatuan serta perdamaian
3.      tidak menetapkan peraturan baru danmneghapus peraturan yang lama
4.      selalu berbuat sesuai vinaya
5.      menghormati dan berbakti kepada bhikkhu yang lebih tua
6.      menyenangi hutan sebagai tempat tinggal yang lebih tenang
7.      mengembangkan pikiran yang baik dengan rekan sepenghidupan.
c.       tujuh sifat baik:
1.      keyakinan
2.      rasa malu untuk berbuat jahat
3.      rasa takut akan akibat dari perbuatan jahat
4.      banyak pengetahuan
5.      keteguhan batin
6.      perhatian yang kuat
7.      kebijaksanaan
d.      tujuh macam pencerapan:
1.      memiliki pengetahuan tentang ketidakkekalan (anicca)
2.      mengembangkan pengertian tentang ketanpa akauan (anatta)
3.      mengembangkan pengertian tentang ketidakindahan tubuh
4.      mengembangkan pelenyapan pandangan salah
5.      mengembangkan pelenyapan kekotoran batin
6.      mengembangkan pelenyapan nafsu
7.      mengembangkan penghentian dukkha.
e.       enam syarat yang harus diingat:
1.      saling mengasihi dan menyayangi dalam perbuatan
2.      saling mnegasihi dan menyayangi dalam ucapan
3.      saling mengasihi dan menyayangi dalam pikiran
4.      memebagi perolehan dengan adil
5.      melaksanakan kehidupan suci dengan sila yang tidak dilanggar/tidak ternoda
6.      mengembangkan pandangan benar untukmelenyapkan penderitaan
f.       tujuh factor penerangan sejati
1.      perhatian (sati)
2.      penyelidikan dhamma (dhammma vicaya)
3.      bersemangat (viriya)
4.      kegiuran dalam meditasi (piti)
5.      ketenangan (passadi)
6.      meditasi (samadhi)
7.      keseimbangan batin (upekkha)
g.      raungan singa sariputta
dalam akhir khotbah ini bhikkhu sariputta mengungkapkan raungan singa sariputta, yaitu ungkapan keyakinan bhikkhu sariputta kepada sang bhagava akan pencapaian penerangan sempurna
h.      kesunyataan mulia (Ariya Sacca)
1.      dukkha ariya sacca (kesunyataan mulia tentang dukkha)
2.      dukkha samudaya ariya sacca (kesunyataan mulia tentang asal mula/sebab dukkha)
3.      dukkha niroda ariya sacca (kesunyataan mulia tentang lenyapnya dukkha)
4.      dukkha nirodha gamini patipada ariya sacca (kesunyataan mulia tentang jalan menuju lenyapnya dukkha) Yaitu jalan tengah berunsur delapan, yaitu:
a)      Samma ditthi: pandangan benar
b)      Samma sankhapa: pikiran benar
c)      Samma vacca: ucapan benar
d)     Samma kammanta: perbuatan benar
e)      Samma ajiva: mata pencaharian benar
f)       Samma vayama: usaha benar
g)      Samma sati: perhatian benar
h)      Samma samadhi: samadhi benar
i.        delapan sebab gempa bumi
1.      bumi yang luas terbentuk dari zat cair, zat cair terbentuk dari udara dan udara ada diangkasa. Apabila udara bertiup maka zat cair tergoncang. Kegonjangan zat cair ini menyebabkan bumi bergetar (terbentuknya bumi/dunia)
2.      apabila seorang pertapa mempunyai kekuatan batin yang besar, seseorang yang telah memperoleh kekutan untuk mngendalikan pikirannya, mengembangkan pemusatan pikiran yang hebat pada unsure bumi dan pada suatu tingkatan yang tak terbatas pada unsure zat cair, ia juga dapat menyebabkan bumi bergetar
3.      ketika boddhisatva meninggalkan surga tusita dan lahir melalui rahim seorang ibu yang penuh pengertian dan perhatian besar
4.      ketika sang boddhisatva lahir
5.      ketika boddhisatva mencapai kesempurnaan, yang maha sempurna, tak ada yang menyamainya dan sungguh luar biasa kesempurnaanya
6.      ketika sang Buddha memutar dhamma cakka (roda dhamma)
7.      ketika sang Buddha bertekada meneruskan hidupnya
8.      ketika sang Buddha maha parinibbana
j.        permohonan mara
mara memohon kepada sang Buddha agar segera mengakhiri hidupnya.
Sang Buddha menjawab: “sebelum para bhikkhu/bhikkhuni/upasaka/upasika menjadi siswa-siswaku yang benar-benar bijaksana dalam melaksanakan peraturan-peraturan yang benar-benar cakap, terpelajar, memelihara dhamma, hidup sesuai dengan dhamma, berpegang teguh pada pimpinan yang telah ditetapkan, telah mempelajari kata-kata sang guru, dapat menerangkan, mengkhotbahkannya, mengumumkannya, menyusun, mengartikannya, menerangkan secara seksama, membuatnya menjadi jelas, dapat memberikan penjelasan secara sempurna sehingga menimbulkan keyakinan pada setiap orang bahwa dhamma dapat membawa kebebasan terakhir/nibbana.
Mara: pembawa kematian, nafsu, godaan, tabiat buruk/sifat yang jahat.
Lima macam mara: pancakhanda, aktivitas kamma, kematian, kekotoran batin, makhluk yang menyerupai dewa.
Pasukan mara terdiri dari:nafsu indera, ketidakpuasan, kelaparan, nafsu keinginan, mengantuk, sifat pengecut, ketidakpastian, sifat keras kepala, dapat pujian yang sebenarnya tak diperoleh, memuji diri sendiri, dan menjelekkan orang lain.
k.      nasehat sang Buddha
“dharma merupakan pengetahuan langsung yang telah kuajarkan untuk dipelajari benar-benar, untuk memelihara benar-benar, mengembangkan serta mempraktekkan dhamma secara berulang-ulang”.
Dhamma yang telah ku ajarkan:
1.      empat usaha benar
a.       usaha yang rajin agar keadaan-keadaan yang jahat dan buruk tidak timbul pada diri seseorang
b.      usaha yang rajin menghilangkan keadaan-keadaan yang jahat dan buruk yang telah timbul pada diri seseorang
c.       usaha yang rajin menimbulkan keadaan-keadaan yang baik pada diri seseorang
d.      usaha yang rajin menjaga keadaan-keadaan yang baik yang telah timbul dan tidak membiarkan lenyap.
2.      empat dasar kekuatan batin
a.       kesadaran pada penyelidikan terhadap badan jasmani (kayanupasana)
b.      kesadaran pada penyelidikan terhadap perasaan (vedananupasana).
c.       Kesadaran pada penyelidikan terhadap pikiran (cittanupassana)
d.      Kesadaaran pada penyelidikan terhadap kesan-kesan pikiran (dhamma nupasana)
3.      lima bakat batin
a.       mempunyai bakat/keahlian dalam pemikiran akan memasuki jhana
b.      mempunyai bakat/keahlian dalam memasuki jhana
c.       mempunyai bakat/keahlian dalam menentukan waktu berapa lama hendak berada di dalam jhana
d.      mempunyai bakat/keahlian dalam pemikiran akan keluar dari jhana
e.       mempunyai bakat/keahlian dalam peninjauan jhana
f.        
l.        enam kekuatan batin
1.      kemampuan untuk meningat kelahiran yang lampau
2.      kemampuan untuk melihat alam-alam lain dan kesanggupan melihat muncul dan lenyapnya makhluk-makhluk yang bertumimbal lahir sesuai dengan karmanya masing-masing
3.      kemampuan untuk membasmi kekotoran batin
4.      kemampuan untuk membaca pikiran orang lain
5.      kemampuan untuk mendengar suara-suara dari makhluk-makhluk yang berada di alam lain
6.      kekuatan magis
m.    cermin kebenaran
latar belakang: adanya kerisauan bhikkhu ananda yang kemudian menanyakan kepada sang Buddha bahwa setiap makhluk harus mengalami kematian
isi: sang Buddha menganjurkan kepada para siswa agar memiliki keyakinan yang tidak tergoyahkan pada kebenaran/sifat-sifat luhur dari sang Buddha, dhamma dan sangha.
Cermin kebenaran adalah sebagai suatu sarana untuk melihat kebenaran yang hakiki sehingga seseorang melalui pandangan benar dapat melihat hidup ini dengan sewajarnya. Sang Buddha memberikan khotbah cermin kebenaran ini bertujuan agar para siswa dapat mawas diri.
n.      4 tempat ziarah (Dharmayatra)
1.      tempat kelahiran pangeran siddharta gotama (Taman Lumbini)
2.      tempat pertapa Gotama pencapaian penerangan sempurna dan menjadi Buddha (Bodh Gaya)
3.      tempat dimana sang Buddha memutar roda dharma (Dhamma cakka) di taman rusa isipatana, Benares
4.      tempat sang Buddha mencapai maha parinibbana (di kusinara).
o.      cara menghormat badan wadag/jenazah/jasad dari sang Buddha
1.      membungkus dengan 500 balutan kain linen
2.      membungkus dengan 500 balutan kain wol
3.      menempatkan jenasah yang sudah dibalut ke dalam peti pembuluk yang di cat meni
4.      menempatkan jenasah di atas tempat pembakaran jenasah yang dibangun dengan beraneka macam kayu wangi/cendana
5.      membangun stupa bekas tempat pembakaran jenasah/badan wadag sang Buddha.
p.      empat pencapaian istimewa
1.      bhikkhu sangha dapat melenyapkan kekotoran batin selama hidupnya dan mendapatkan kebebasan batin melalui kebijaksanaan
2.      bhikkhu nanda dapat menghancurkan 5 belenggu yang rendah dan mneghancurkan keinginan untuk hidup di alam dewa dan tak akan terlahir kembali di dunia. Juga upasaka suddata mampu menghancurkan 3 belenggu dan menjadi seseorang yang akan  dilahirkan sekali lagi
3.      upasika sujata dapat menghancurkan 3 belenggu yang rendah dan mneghancurkan keinginan untuk hidup di alam dewa dan tak akan terlahir di dunia
4.      upasaka kakhuda dapat menghancurkan lima belenggu yang rendah dan menghancurkan keinginan untuk hidup di alam dewa dan tak akan terlahir lagi di dunia.
q. santapan terakhir dari sang Buddha




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar