Selasa, 20 November 2012

ketuhanan dalam agama Buddha

Ketuhanan Dalam Agama Buddha

A.      Pendahuluan
Kehidupan agama di luar negeri tidak diatur oleh pemerintah, sepanjang tidak meJanggar aturan pemerintahan, agama atau kepercayaan apapun dapat hidup dan berkembang. Kehidupan beragama di Indonesia diatur keberadaan dan perkembangannya oleh pemerintah melalui Departemen Agama dan Departemen-departemen atau instansi-instansi yang terkait, seperti Departemen Dalam Negeri, Departemen Pendidikan dan Departemen-departemen lain. Kaidah-kaidah agama yang bermacam-macam dapat menjadi rawan, apabila tidak diatur dengan sebaik mungkin, sehingga tidak menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat dan kestabilan pemerintah.
Dasar Negara Indonesia Pancasila, khususnya sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan dasar yang sangat penting dan menentukan, sehingga masalah Tuhan dan Ketuhanan dalam agama-agama yang berkembang di Indonesia perlu mendapatkan perhatian khusus bagi pemuka agama. Mungkin masalah Ketuhanan di luar negeri bisa jadi tidak begitu perlu dibicarakan, tetapi di Indonesia tidak membicarakan masalah Ketuhanan dapat ditafsirkan sebagai Atheis (tidak bertuhan). Oleh karena itu, Ketuhanan dalam agama Buddha mutlak perlu dimengerti, dihayati, dibicarakan dan diungkapkan dengan konsep-konsep Ketuhanan yang jelas.
Peraturan pemerintah RI No. 21/1975 tentang sumpah/janji pegawai negeri sipil, telah mengatur pengucapan sumpah/janji bagi yang beragama Buddha dengan roenyebut "Demi Sanghyang Adi Buddha". Pada awal pengucapan sumpah tersebut.
Agama Buddha adalah agama yang bersifat Theis, artinya agama yang bertuhan, seperti halnya agama-agama lainnya yang diatur kehidupan serta keberadaannya oleh Departemen Agama; walaupun konsepsi tentang Tuhan antara agama yang satu dengan agama lainnya berbeda.

B.     Konsepsi Ketuhanan Dalam Agama Buddha
Konsep Ketuhanan dalam agama Buddha terdapat dua konsep, yaitu konsep Theravada dan konsep Mahayana-Tantrayana.
1.      Konsep Theravada
Berdasarkan petikan Sutta Pitaka, Sang Buddha menyatakan: "Ketahuilah para Bhikkhu, bahwa ada sesuatu yang tidak dilahirkan, yang tidak menjelma, yang tidak tercipta, yang mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila tidak ada yang tidak dilahirkan, yang tidak menjelma, yang tidak diciptakan, yang mutlak, maka tidak terdapat kemungkinan kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada yang tidak dilahirkan, yang tidak menjelma, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu (Ud. viii: 3).
Ketuhanan Yang Maha Esa dalam bahasa Pali adalah "Athi Ajatam Adbhutam Akatam Samkhatam" artinya: "Suatu yang tidak dilahirnya, tidak menjelma, tidak diciptakan dan yang mutlak". Ketuhanan Yang Maha Esa adalah sesuatu tanpa aku (anatta). Yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apapun. Tetapi dengan adanya yang mutlak, yang tidak berkondisi (Asamkhatam) dapat dicapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara meditasi.
Untuk dapat mengerti lebih mendalam tentang kesucian Tuhan, diperlukan penembusan dan penyelaman hakekat dari Tri Ratna, karena Tri Ratna merupakan perwujudan kesucian Tuhan yang dapat atau mudah diterima oleh pikiran manusia yang terbatas. Dengan pencapaian kesucian melalui Sila, Samadhi dan pañña, seseorang mengetahui dan menyatu dengan hakekat kesucian Tri Ratna, sehingga mampu mengerti kesucian Tuhan. Salah satu perwujudan pelaksanaan Sila, Samadhi dan Pañña adalah pengembangan batin luhur (Brahmavihara): cinta kasih (metta), belas kasih (karuna), simpati (mudita) dan keseimbangan batin (upekkha).
2.      Konsep Mahayana-Tantrayana
Konsep ini dikemukakan oleh Sangha Agung Indonesia sebagai penjabaran Ketuhanan dalam agama Buddha. Definisi Tuhan: "Dialah sumber dari segala sesuatu yang ada". Dengan sendirinya; Maha Esa, kekal, segala sesuatu di alam semesta adalah babaran dari-Nya, tidak berwujud dan tidak mewujud-kan diri-Nya, namun segala kata-kata yang indah ini tidak mampu untuk melukisan keadaan dari Sanghyang Adi Buddha.
Istilah Sanghyang Adi Buddha adalah istilah yang disepakati dan dipergunakan oleh Sangha Agung Indonesia dan Majelis Buddhayana Indonesia sebagai sebutan Tuhan Yang Maha Esa. Umat Buddha Indonesia sejak jaman keemasan Syailendra dan Mataram Kuno sudah yakin akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, seperti halnya umat Buddha di Tibet, Nepal dan dari aliran utara. Di Nepal selain istilah Adi Buddha juga dikenal istilah Adinata, yang berarti peSindung utama, juga Swayambhulokanatta yang berarti pelindung jagat yang tidak dilahirkan, sedangkan di Tibet dikenal pula istilah-istilah seperti Vajradhara atau Dorjechang atau penguasa dari semua misteri. Kitab Namasangiti yang ditulis oleh seorang Bhikkhu Indonesia benama Candrakirti, dan simbolisme yang terpancar pada stupa mandala candi Borobudur cukup memberi bukti bahwa agama Buddha yang dipeluk oleh rakyat Indonesia sejak jaman Sriwijaya, Mataran kuno, Syailendra dan Majapahit adalah agama Buddha yang mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa.
Sanghyang Adi Buddha terdapat pada naskah kitab suci agama Buddha, antara lain:
a.    Naskah Guna Karanda Vyuha
Sewaktu belum ada apa-apa, Sambhu sudah ada, inilah yang disebut Svayambhu (yang ada dengan sendirinya), dan mendahului segala sesuatu, karena itu disebut juga Sang Adi Buddha.

b.      Naskah Svayambhu Purana
Pada sebuah telaga di kota Kathmandu, ibukota Nepal, bermanifestasi sekuntum bunga teratai. Di atas teratai tersebut tampil sebuah bulan sabit, dan di atas bulan sabit tersebut keluar suatu nyala api yang berbentuk lingkaran. Manjushri Dhurmaraja Kumara Bodhisattva membangun sebuah cetiya di atasnya. Cetiya tersebut dinamakan Svayambhu Cetiya, yang sampai sekarang masih sangat dihormati.

c.       Naskah Shinten Sakai
Pada permujaan sejarah agama Buddha, beberapa aliran telah mengenal pengertian Adhi Buddha. Di Tiongkok dikenal dengan istilah Pen Chu Fu atau Pun Co Hut. Penghormatan kepada Sanghyang Adi Buddha banyak dikaitkan dengan dunia mistik dan kerahasiaan. Dalam bahasa Tibet disebut juga Chos Kyidan Pohi Sane Rgyas (Maha tahu Maha kuasa berada dimana-mana, abadi, tanpa batas, tiada sebab, tetapi adalah pangkal dari semua sebab).

d.      Naskah Sanghyang Kamahayanikan
Segala puji bagi Sanghyang Adi Buddha, inilah Sanghyang Kamahayanikan yang hendak Kuajarkan kepadamu, kepada putra Buddha (yang juga) keluarga Tathagata, keagungan pelaksanaan Sanghyang Mahayana itulah yang kuajarkan kepadamu. Di dalam varga 92 ditulis: apapun Amah itu Sanghyang Advaya yang menjadi bapak dari Bhatara Buddha. Apapun pengetahuan tentang sadar yang sadar tiada berwujud, itulah yang disebut Sanghyang Advaya Jhana, itu adalah awal Dewi Bhatara Prajna Paramita. Beliau adalah Ibu dari Bhatara Buddha, wujud sinar itulah yang disebut Bhatara Buddha.
e.       Naskah Kala Cakra
Sanghyang Adi Buddha, Yang Pertama yang disebut juga Vajradhara, The Supreme Buddha atau Dorjechang sebagai penguasa dari semua misteri, ia tidak memanifestasikan diri-Nya, namun mengirimkan hati-Nya ke dalam alam dunia penjelmaan yaitu: Hati berlian-Nya, para Dhyani Buddha yang disebut juga Vajrasattva atau Dorjesempa. Kelima Dhyani Buddha ini dalam kalangan mistik Mahayana disebut Anupadaka, ia yang tidak mempunyai ibu-bapak.
f.        Pengertian Adi Buddha juga terdapat di dalam naskah-naskah:   Namasangiti, Sri Kalacakratanha. Guhyasamaya Sutra, Maha Vairocanabhisambodhi Sutra, Tatvasangrana Sutra.
Nama dan sebutan-sebutan lain hasi Sanghyang Adi Buddha:


a.       Adi Buddha    : Pangkal dari alam semesta, yang paling dahulu dari terdahulu, Yang Pertama, Penguasa dari semua misteri.
b.      Adhi Buddha: Esa, Asal Mula Yang Pertama, Maha Bijaksana.
c.       Anadi Buddha: Buddha yang tidak dilahirkan atau diciptakan.
d.      Uru Buddha: Buddha dari segala Buddha.
e.       Bhatara Hyang Buddha: Buddha Tertinggi.
f.       Adinata: Pelindung pertama.
g.      Lokanata: Pelindung dunia yang ada.
h.      Visvarupa: Penuh berbagai pengejawantahan.
i.        Vajradhara: Thunderbolt holder.
j.        Svabhava: Ada dengan sendirinya.
k.      Sanghyang Advaya: T iada duanya.
l.        Sanghyang Tahya: Permulaan dari semuanya.
m.    Paramartha: Yang Utama.
n.      Svayambhu: Ada tanpa diadakan.

Penjelasan lebih lanjut tentang kitab Namasangiti:
Ditulis oleh seorang Bhikshu Indonesia bemama Chandrakirti pada abad ke X masehi, yang membahas sifat-sifat Sanghyang Adi Buddha. Naskah tersebut sebagai pengungkapan kembali dari naskah lama abad IV masehi yang diprakarsai oleh bhikkhu Asangha dari Bangalore, pendiri aliran Yogacara, yang melahirkan doktrin Adi Buddha, sebagai ajaran Mahayana yang telah diberi landasan oleh bhikkhu Asvaghosa yang pada mulanya berasal dari kaum brahmana ahli Veda. Beliau menggali istilah Adi Buddha dari istilah Sangkrit purba: Adhi Buddha: Yang Esa, Yang Pertama Sekali, Yang Maha Bijaksana. Istilah Adhi Buddha pertama kali dipakai oleh Aryasangha untuk menyatakan yang tidak dapat diketahui.
Perkembangan agama Buddha yang theis di negara bagian Benggala berkembang dengan pesat. Sejak abad V masehi hubungan Indonesia dengan negara bagian Benggala sangat baik. Pada abad IX paham theis di Benggala semakin hidup dan berkembangan luas. Pada abad tersebut di kerajaan Sriwijaya Chandrakirti menulis tentang Sanghyang Adi Buddha dalam kitah Namasangiti.
Pada waktu itu datang pula Bhikkhu dari Kashmir yang telah lama menetap di Tibet benama Dipankara. Beilau mendalami naskah Namasangiti tersebut di Sriwijaya dan kemudian kembali ke negerinya (Tibet) untuk menyebarkan agama Buddha. Dari sinilah terialin kontak hubungan antara Indonesia-Tibet serta India.

Pengaturan Alam Semesta Oleh Sanghyang Adi Buddha.
Sanghyang Adi Buddha mengatur alam semesta dengan hukum-hukum kesunyataan atau hukum alam, disinilah kita merasakan keadilan Tuhan. Beliau tidak pemah menghukum dan tidak memberikan ganjaran atau berkah, tetapi mereka mendapatkan kebahagiaan karena hidup sesuai dengan hukum kesunyataan, dan sebaliknya menderita karena hidup bertentangan dengan hukum-hukum kesunyataan.
Sanghyang Adi Buddha tidak pemah mewujudkan atau memanifestasikan diri-Nya di dunia, tetapi Sanghyang Adi Buddha memancarkan daya gaibnya berwujud Panca Dhyani Buddha yang mengatur alam semesta secara bergiliran, yaitu Dhyani Buddha Vairocana, Dhyani Buddha Akshobhya, Dhyani Buddha Amoghasidhi, Dhyani Buddha Amitabha, dan Dhyani Buddha Ratnasambhava.
Sanghyang Adi Buddha maupun para Dhyani Buddha tidak mengejawantah di dunia, kemudian para Dhyani buddha menciptakan lima (5) manushi Buddha dan lima (5) Dhyani Bodhisattva.
Para manushi Bodhisattva akan lahir ke dunia kemudian menjadi Buddha dan mengajarkan Dharma kepada para dewa dan manusia. Setelah Buddha tersebut Parinirvana, Dhyani Bodhisattva bertugas untuk menjaga kelestarian Dharma yang diajarkan oleh Buddha di dunia.

Urutan-urutan Dhyani Buddha dan Pusat Keberadaannya Di Alam Semesta


Dhyani Buddha Vairocana, Aksobhya dan Amogasidhi telah selesai bertugas pada masa lampau, karena itu disebut Dhyani Buddha masa lampau, demikian pula dengan Krakuccanda, Kanakamuni dan Kasyapa sebagai manushi-manushi Bodhisattva yang waktunya masing-masing terlahir kemudian menjadi Buddha, disebut Buddha pada masa lampau.
Sedangkan alam semesta pada saat ini diatur oleh Dhyani Buddha Amitabha disebut Buddha masa sekarang dan Sakyamuni sebagai manushi Bodhisattva telah lahir sebagai manushi Bodhisattva di dunia ini pada tahun 632 sebelum masehi di India, kemudian mencapai penerangan sempurna menjadi Buddha, dan disebut sebagai Buddha pada masa sekarang; dan Dhyani Bodhisattva Avalokitesvara bertugas menjaga kelestarian Dharma yang diajarkan oleh Buddha Sakyamuni setelah Buddha Sakyamuni Parinirvana.
Pada masa sekarang yang paling banyak dipuja adalah Buddha Sakyamuni, Buddha Amitabha dan Avalokitesvara Bodhisattva yang bertugas pada masa sekarang. Dhyani Buddha Ratnasambhava adalah Dhyani Buddha masa yang akan datang, yang sekarang belum bertugas. Demikian pula dengan Maitreya adalah Bodhisattva yang belum terlahir di dunia dan belum nienjadi Buddha, juga Dhyani Bodhisattva Wisvapani belum bertugas untuk melestarikan Dharma.

C.    Penutup
Pada hakekatnya agama Buddha adaiah agama yang bertuhan dan mempunyai konsepsi Ketuhanan yang jelas dan menggambarkan keadilan Tuhan dalam mengatur alam semesta melalui hukum-hukum kesunyataan dan pancaran daya gaibnya di alam semesta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar