Ketuhanan Dalam Agama Buddha
A.
Pendahuluan
Kehidupan agama di
luar negeri tidak diatur oleh pemerintah, sepanjang tidak meJanggar aturan
pemerintahan, agama atau kepercayaan apapun dapat hidup dan berkembang. Kehidupan
beragama di Indonesia diatur keberadaan dan perkembangannya oleh pemerintah
melalui Departemen Agama dan Departemen-departemen atau instansi-instansi yang
terkait, seperti Departemen Dalam Negeri, Departemen Pendidikan dan
Departemen-departemen lain. Kaidah-kaidah agama yang bermacam-macam dapat
menjadi rawan, apabila tidak diatur dengan sebaik mungkin, sehingga tidak
menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat dan kestabilan
pemerintah.
Dasar Negara
Indonesia Pancasila, khususnya sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan
dasar yang sangat penting dan menentukan, sehingga masalah Tuhan dan Ketuhanan
dalam agama-agama yang berkembang di Indonesia perlu mendapatkan perhatian
khusus bagi pemuka agama. Mungkin masalah Ketuhanan di luar negeri bisa jadi
tidak begitu perlu dibicarakan, tetapi di Indonesia tidak membicarakan masalah
Ketuhanan dapat ditafsirkan sebagai Atheis (tidak bertuhan). Oleh karena
itu, Ketuhanan dalam agama Buddha mutlak perlu dimengerti, dihayati,
dibicarakan dan diungkapkan dengan konsep-konsep Ketuhanan yang jelas.
Peraturan pemerintah
RI No. 21/1975 tentang sumpah/janji pegawai negeri sipil, telah mengatur pengucapan
sumpah/janji bagi yang beragama Buddha dengan roenyebut "Demi Sanghyang
Adi Buddha". Pada awal pengucapan sumpah tersebut.
Agama Buddha
adalah agama yang bersifat Theis, artinya agama yang bertuhan, seperti halnya
agama-agama lainnya yang diatur kehidupan serta keberadaannya oleh Departemen
Agama; walaupun konsepsi tentang Tuhan antara agama yang satu dengan agama
lainnya berbeda.
B.
Konsepsi Ketuhanan Dalam Agama Buddha
Konsep Ketuhanan
dalam agama Buddha terdapat dua konsep, yaitu konsep Theravada dan konsep
Mahayana-Tantrayana.
1.
Konsep Theravada
Berdasarkan
petikan Sutta Pitaka, Sang Buddha menyatakan: "Ketahuilah para Bhikkhu,
bahwa ada sesuatu yang tidak dilahirkan, yang tidak menjelma, yang tidak
tercipta, yang mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila tidak ada yang tidak
dilahirkan, yang tidak menjelma, yang tidak diciptakan, yang mutlak, maka tidak
terdapat kemungkinan kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan,
pemunculan dari sebab lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada yang tidak
dilahirkan, yang tidak menjelma, maka ada kemungkinan untuk bebas dari
kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu (Ud.
viii: 3).
Ketuhanan Yang
Maha Esa dalam bahasa Pali adalah "Athi Ajatam Adbhutam Akatam Samkhatam"
artinya: "Suatu yang tidak dilahirnya, tidak menjelma, tidak diciptakan
dan yang mutlak". Ketuhanan Yang Maha Esa adalah sesuatu tanpa aku (anatta). Yang tidak dapat dipersonifikasikan
dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apapun. Tetapi dengan adanya yang
mutlak, yang tidak berkondisi (Asamkhatam)
dapat dicapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara meditasi.
Untuk dapat
mengerti lebih mendalam tentang kesucian Tuhan, diperlukan penembusan dan
penyelaman hakekat dari Tri Ratna, karena Tri Ratna merupakan perwujudan
kesucian Tuhan yang dapat atau mudah diterima oleh pikiran manusia yang
terbatas. Dengan pencapaian kesucian melalui Sila, Samadhi dan pañña,
seseorang mengetahui dan menyatu dengan hakekat kesucian Tri Ratna, sehingga
mampu mengerti kesucian Tuhan. Salah satu perwujudan pelaksanaan Sila, Samadhi dan Pañña adalah pengembangan batin luhur (Brahmavihara): cinta kasih (metta), belas kasih (karuna),
simpati (mudita) dan keseimbangan batin (upekkha).
2.
Konsep Mahayana-Tantrayana
Konsep ini
dikemukakan oleh Sangha Agung Indonesia sebagai penjabaran Ketuhanan dalam
agama Buddha. Definisi Tuhan: "Dialah sumber dari segala sesuatu yang
ada". Dengan sendirinya; Maha Esa, kekal, segala sesuatu di alam semesta
adalah babaran dari-Nya, tidak berwujud dan tidak mewujud-kan diri-Nya, namun
segala kata-kata yang indah ini tidak mampu untuk melukisan keadaan dari
Sanghyang Adi Buddha.
Istilah Sanghyang
Adi Buddha adalah istilah yang disepakati dan dipergunakan oleh Sangha
Agung Indonesia dan Majelis Buddhayana Indonesia sebagai sebutan Tuhan Yang
Maha Esa. Umat Buddha Indonesia sejak jaman keemasan Syailendra dan Mataram
Kuno sudah yakin akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, seperti halnya umat Buddha di
Tibet, Nepal dan dari aliran utara. Di Nepal selain istilah Adi Buddha juga dikenal istilah Adinata, yang berarti peSindung utama,
juga Swayambhulokanatta yang berarti
pelindung jagat yang tidak dilahirkan, sedangkan di Tibet dikenal pula
istilah-istilah seperti Vajradhara atau
Dorjechang atau penguasa dari semua
misteri. Kitab Namasangiti yang
ditulis oleh seorang Bhikkhu Indonesia benama Candrakirti, dan
simbolisme yang terpancar pada stupa mandala candi Borobudur cukup memberi
bukti bahwa agama Buddha yang dipeluk oleh rakyat Indonesia sejak jaman
Sriwijaya, Mataran kuno, Syailendra dan Majapahit adalah agama Buddha yang
mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa.
Sanghyang Adi
Buddha terdapat pada naskah kitab suci agama Buddha, antara lain:
a. Naskah Guna Karanda Vyuha
Sewaktu belum ada
apa-apa, Sambhu sudah ada, inilah yang disebut Svayambhu (yang ada dengan sendirinya), dan mendahului
segala sesuatu, karena itu disebut juga Sang Adi Buddha.
b. Naskah Svayambhu Purana
Pada sebuah telaga
di kota Kathmandu, ibukota Nepal, bermanifestasi sekuntum bunga teratai. Di
atas teratai tersebut tampil sebuah bulan sabit, dan di atas bulan sabit
tersebut keluar suatu nyala api yang berbentuk lingkaran. Manjushri
Dhurmaraja Kumara Bodhisattva membangun sebuah cetiya di atasnya. Cetiya
tersebut dinamakan Svayambhu Cetiya, yang sampai sekarang masih sangat
dihormati.
c. Naskah Shinten Sakai
Pada permujaan
sejarah agama Buddha, beberapa aliran telah mengenal pengertian Adhi Buddha. Di Tiongkok dikenal dengan
istilah Pen Chu Fu atau Pun Co Hut. Penghormatan kepada Sanghyang Adi Buddha banyak dikaitkan dengan dunia mistik dan kerahasiaan. Dalam
bahasa Tibet disebut juga Chos Kyidan
Pohi Sane Rgyas (Maha tahu Maha kuasa berada dimana-mana, abadi, tanpa
batas, tiada sebab, tetapi adalah pangkal dari semua sebab).
d. Naskah
Sanghyang Kamahayanikan
Segala puji bagi
Sanghyang Adi Buddha, inilah Sanghyang Kamahayanikan yang hendak Kuajarkan
kepadamu, kepada putra Buddha (yang juga) keluarga Tathagata, keagungan
pelaksanaan Sanghyang Mahayana itulah
yang kuajarkan kepadamu. Di dalam varga 92 ditulis: apapun Amah itu Sanghyang Advaya yang menjadi bapak dari
Bhatara Buddha. Apapun pengetahuan
tentang sadar yang sadar tiada berwujud, itulah yang disebut Sanghyang
Advaya Jhana, itu adalah awal Dewi
Bhatara Prajna Paramita. Beliau adalah Ibu dari Bhatara Buddha, wujud sinar itulah yang disebut Bhatara Buddha.
e. Naskah Kala Cakra
Sanghyang Adi
Buddha, Yang Pertama yang disebut juga Vajradhara,
The Supreme Buddha atau Dorjechang
sebagai penguasa dari semua misteri, ia tidak memanifestasikan diri-Nya, namun
mengirimkan hati-Nya ke dalam alam dunia penjelmaan yaitu: Hati berlian-Nya,
para Dhyani Buddha yang disebut juga Vajrasattva atau Dorjesempa. Kelima Dhyani
Buddha ini dalam kalangan mistik Mahayana disebut Anupadaka, ia yang tidak
mempunyai ibu-bapak.
f.
Pengertian Adi Buddha juga
terdapat di dalam naskah-naskah: Namasangiti,
Sri Kalacakratanha. Guhyasamaya Sutra,
Maha Vairocanabhisambodhi Sutra, Tatvasangrana Sutra.
Nama dan sebutan-sebutan lain hasi Sanghyang
Adi Buddha:
a.
Adi Buddha : Pangkal dari alam semesta, yang paling
dahulu dari terdahulu, Yang Pertama, Penguasa dari semua misteri.
b. Adhi Buddha: Esa,
Asal Mula Yang Pertama, Maha Bijaksana.
c. Anadi Buddha: Buddha yang tidak dilahirkan atau diciptakan.
d. Uru Buddha: Buddha dari
segala Buddha.
e. Bhatara Hyang Buddha: Buddha Tertinggi.
f. Adinata: Pelindung pertama.
g. Lokanata: Pelindung dunia yang ada.
h. Visvarupa: Penuh berbagai
pengejawantahan.
i.
Vajradhara: Thunderbolt
holder.
j.
Svabhava: Ada dengan
sendirinya.
k. Sanghyang Advaya: T iada duanya.
l.
Sanghyang Tahya: Permulaan dari
semuanya.
m. Paramartha: Yang Utama.
n. Svayambhu: Ada tanpa
diadakan.
Penjelasan lebih lanjut tentang kitab Namasangiti:
Ditulis oleh
seorang Bhikshu Indonesia bemama Chandrakirti pada abad ke X masehi, yang
membahas sifat-sifat Sanghyang Adi Buddha. Naskah tersebut sebagai pengungkapan
kembali dari naskah lama abad IV masehi yang diprakarsai oleh bhikkhu
Asangha dari Bangalore, pendiri aliran Yogacara,
yang melahirkan doktrin Adi Buddha, sebagai ajaran Mahayana yang telah diberi
landasan oleh bhikkhu Asvaghosa yang pada mulanya berasal dari kaum
brahmana ahli Veda. Beliau menggali istilah Adi Buddha dari istilah Sangkrit
purba: Adhi Buddha: Yang Esa, Yang Pertama Sekali, Yang Maha
Bijaksana. Istilah Adhi Buddha pertama kali dipakai oleh Aryasangha
untuk menyatakan yang tidak dapat diketahui.
Perkembangan agama
Buddha yang theis di negara bagian Benggala berkembang dengan pesat. Sejak abad
V masehi hubungan Indonesia dengan negara bagian Benggala sangat baik. Pada
abad IX paham theis di Benggala semakin hidup dan berkembangan luas. Pada abad
tersebut di kerajaan Sriwijaya Chandrakirti menulis tentang Sanghyang
Adi Buddha dalam kitah Namasangiti.
Pada waktu itu
datang pula Bhikkhu dari Kashmir yang telah lama menetap di Tibet benama
Dipankara. Beilau mendalami naskah Namasangiti
tersebut di Sriwijaya dan kemudian kembali ke negerinya (Tibet) untuk
menyebarkan agama Buddha. Dari sinilah terialin kontak hubungan antara Indonesia-Tibet
serta India.
Pengaturan Alam Semesta Oleh Sanghyang Adi Buddha.
Sanghyang Adi
Buddha mengatur alam semesta dengan hukum-hukum kesunyataan atau hukum alam, disinilah
kita merasakan keadilan Tuhan. Beliau tidak pemah menghukum dan tidak memberikan
ganjaran atau berkah, tetapi mereka mendapatkan kebahagiaan karena hidup sesuai
dengan hukum kesunyataan, dan sebaliknya menderita karena hidup bertentangan
dengan hukum-hukum kesunyataan.
Sanghyang Adi Buddha tidak pemah mewujudkan atau memanifestasikan diri-Nya
di dunia, tetapi Sanghyang Adi Buddha memancarkan daya gaibnya berwujud Panca
Dhyani Buddha yang mengatur alam semesta secara bergiliran, yaitu Dhyani Buddha Vairocana, Dhyani Buddha Akshobhya,
Dhyani Buddha Amoghasidhi, Dhyani Buddha Amitabha, dan Dhyani Buddha
Ratnasambhava.
Sanghyang Adi Buddha maupun para Dhyani Buddha tidak mengejawantah di dunia,
kemudian para Dhyani buddha menciptakan lima (5) manushi Buddha dan lima (5) Dhyani
Bodhisattva.
Para manushi Bodhisattva akan
lahir ke dunia kemudian menjadi Buddha dan mengajarkan Dharma kepada para dewa dan
manusia. Setelah Buddha tersebut Parinirvana, Dhyani Bodhisattva bertugas untuk
menjaga kelestarian Dharma yang diajarkan oleh Buddha di dunia.
Urutan-urutan
Dhyani Buddha dan Pusat Keberadaannya Di Alam Semesta

Dhyani Buddha
Vairocana, Aksobhya dan Amogasidhi telah selesai bertugas pada masa lampau,
karena itu disebut Dhyani Buddha masa lampau, demikian pula dengan Krakuccanda,
Kanakamuni dan Kasyapa sebagai manushi-manushi Bodhisattva yang
waktunya masing-masing terlahir kemudian menjadi Buddha, disebut Buddha pada
masa lampau.
Sedangkan alam
semesta pada saat ini diatur oleh Dhyani Buddha Amitabha disebut Buddha masa
sekarang dan Sakyamuni sebagai manushi Bodhisattva telah lahir sebagai manushi
Bodhisattva di dunia ini pada tahun 632 sebelum masehi di India, kemudian
mencapai penerangan sempurna menjadi Buddha, dan disebut sebagai Buddha pada
masa sekarang; dan Dhyani Bodhisattva Avalokitesvara bertugas menjaga kelestarian
Dharma yang diajarkan oleh Buddha Sakyamuni setelah Buddha Sakyamuni
Parinirvana.
Pada masa sekarang
yang paling banyak dipuja adalah Buddha Sakyamuni, Buddha Amitabha dan
Avalokitesvara Bodhisattva yang bertugas pada masa sekarang. Dhyani Buddha
Ratnasambhava adalah Dhyani Buddha masa yang akan datang, yang sekarang belum
bertugas. Demikian pula dengan Maitreya adalah Bodhisattva yang belum terlahir
di dunia dan belum nienjadi Buddha, juga Dhyani Bodhisattva Wisvapani belum
bertugas untuk melestarikan Dharma.
C.
Penutup
Pada hakekatnya
agama Buddha adaiah agama yang bertuhan dan mempunyai konsepsi Ketuhanan yang
jelas dan menggambarkan keadilan Tuhan dalam mengatur alam semesta melalui
hukum-hukum kesunyataan dan pancaran daya gaibnya di alam semesta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar