Kamis, 15 Desember 2011

vinaya pitaka



                                                        RINGKASAN VINAYA PITAKA

A.   Pengertian Vinaya

Vinaya (etimologis) berarti aturan, tata tertib
Vinaya diartikan melenyapkan, menghapus, memusnahkan, menghilangkan segala tingkah laku yang menghalangi kemajuan dalam jalan pelaksanaan dhamma atau sesuatu yang membimbing keluar (dari dukkha).
Menurut Y.Abhadantacarya Buddhagosa Thera dalam samantapasadika mengartikan istilah vinaya dalam tiga artian: yang pertama disebut vinaya karena mempunyai arti yang bermacam-macam yaitu, patimokkhuddesa lima macam, Apati tujuh kelompok, matika atau vibhanga, dan arti khususnya adalah anupannati atau suatu ketetapan tambahan yang dapat memperketat atau justru memperingan suatu tata tertib yang telah ditetapkan sebelumnya. Dan yang ketiga vinaya dianggap sebagai suatu sarana untuk melatih serta mengendalikan tindakan dan ucapan karena dapat mencegah serta mengahalangi perbuatan jahat atau keteledoran yang keluar melalui tindakan dan ucapan.

Adapun hal/alasan yang menyebabkan SB menetapkan vinaya adalah:
a.      Untuk tegaknya sangha, karena tanpa vinaya sangha tidak akan bertahan lama.
b.     Untuk kebahagiaan sangha, hal ini dimaksudkan agar Bhikkhu mempunyai sedikit rintangan dan hidup damai.
c.      Untuk pengendalian diri untuk orang-orang yang tidak teguh yang dapat menimbulkan persoalan dalam sangha.
d.     Untuk kebahagiaan bhikkhu-bhikkhu yang berkelakuan baik, karena pelaksanaan sila yang murni menyebabkan kebahagiaan sekarang ini
e.      Untuk perlindungan diri dari asava (kekotoran batin) dalam kehidupan ini, karena banyak kesukaran yang dapat di hindarkan  dengan tingkah laku moral yang baik
f.       Untuk perlindungan diri dari asava  (kekotoran batin) dalam kehidupan yang akan datang, karena asava tidak akan timbul pada orang yang melaksanakan sila baik.
g.      Untuk kebahagiaan mereka yang belum mengenal dhamma, karena orang yang belum mengenal dhamma akan berbahagia dengan tingkah laku para bhikkhu yang baik
h.     Untuk meningkatkan mereka yang sudah berbahagia, hal ini dimaksudkan agar orang yang sudah mengenal dhamma akan berbahagia melihat pelaksanaannya
i.        Untuk tegaknya dhamma yang benar, karena dhamma akan bertahan lama jika vinaya dilaksanakan dengan baik oleh bhikkhu
j.        Dengan vinaya dapat memberi manfaat bagi makhluk-makhluk terbebas dari dukkha menuju nibbana
k.     Untuk simpati dengan umat berkeluarga
l.        Untuk mematahkan semangat bhikkhu yang berfikiran tidak baik.


B.    Sejarah Penyusunan Vinaya

Menurut vinaya athakatha atau samantaphasada SB memberikan vinaya dimulai setelah 20 tahun beliau mencapai penerangan sempurna. Karena pada waktu itu mulai timbul perilaku bhikkhu-bhikkhu yang bukan hanya merugikan perkembangan spiritualnya sendiri tetapi juga berpengaruh terhadap citra sangha dan agama Buddha pada umumnya. Sedangkan penyusunan vinaya mulai dilakukan tujuh hari setelah SB mencapai parinibbana yaitu pada saat dilaksanaknnya sangha samaya.

PELAKSANAAN SANGHA SAMAYA
NO
Dipimpin
Tempat
Jml
Hasil
1
Mahakassapa Thera
Satapani, Rajagaha (India)
500 Arahat
a.Susunan Vinaya (oleh B.Upali)
b.                   Susun Sutta (oleh B.Ananda)
c.B.Ananda digugat
d.                   Hukuman untuk Channa
2
Yasa dibantu Raja Kalasoka
Vesali (India)

700 Arahat

Terjadi suatu perpecahan karena beda pendapat ttg 10 Vinaya Kecil
3
Moggaliputta (Staviravaddha)

Vasumitra (Mahasangika)
Pataliputta (India)

Kashmir
100 Arahat
Susun vinaya, sutta dan abhidhamma. Penyusunan Kathavathu, beda doktrin antara Staviravadha-mahasangika
4
Arittha murid mahinda di sponsori Raja Kaniskha
Anurudhapura (Srilanka)


Kashmir (Srilanka)
60.000 Arahat



500 Arahat
Tipitaka dan atakatha pertama kali ditulis di daun lontar
Mengulas vinaya, sutta, abhidhamma, athakatka
5
Disponsori raja Mindon
Mandalay, Myanmar
2.400 Arahat
Cetak Tipitaka di 729 buah lempengan marmer
6
B.India, Srilanka
Kamboja, Nepal,  Thailand
Yangon, Myanmar

Kata sambutan presiden India, Rajendra Prasad dan PM.Jawaharlal Nehru
Kebangkitan kembali agama Buddha

C.   Vinaya Theravada (Pali)

Vinaya Theravada (Pali) merupakan hasil daripada sangha samaya yang ditetapkan pada sangha samaya I dibawah pimpinan Y.A.Mahakassapa Thera dan ulangan dari Y.A.Upali thera. Bagian pertama dari vinaya pitaka adalah terdiri dari beberapa peraturan disiplin yang diberikan untuk mengatur para siswa SB yang diterima sangha sebagai bhikkhu dan bhikkhuni.



Pengelompokkan Vinaya Pitaka


Dalam pali vinaya (Theravada) yang bersumber dalam vinaya pitaka, vinaya dikelompokkan menjadi beberapa bagian yaitu:
1.     Vinaya pitaka dibagi dalam lima buku (kitab) menurut jenis dan kategori peraturan dan pelanggaran yang ditetapkan dan terdiri dari beberapa penggolongan yaitu:
a.      Parajika pali, vinaya III merupakan buku satu dari vinaya pitaka yang memberikan penjelasan secara rinci tentang peraturan-peraturan disiplin penting berkenaan dengan parajika dan sanghadisesa serta aniyata dan nissagiya yang merupakan pelanggaran kecil
b.     Pacitteya pali merupakan buku 2 dari vinaya pitaka ynag berisikan tentang serangkaian peraturan lain bagi para bhikkhu yaitu paciteya, patidesaniya, sekkhiya vatta, adikarana samata serta peraturan-peraturan disiplin yang sama bagi para bhikkkhu dan bhikkhuni
c.      Mahavagga pali merupakan buku 3 yang isinya sama dengan penggolongan yang pertama
d.     Culavagga merupakan buku yang ke empat dari vinaya pitaka dan isinya sama dengan penggolongan yang pertama
e.      Parivara pali, parivara pali berisikan tentang pedoman dan penjelasan tentang bagaimana peraturan diberikan untuk mengatur para bhikkhu dan urusan-urusan administrasi dalam sangha dan prosedur tepatnya dalam penyelesaian dan penanganan persoalan hukum yang berlaku dikalangan sangha

2.     Untuk mempermudah dalam mempelajari peraturan-peraturan atau vinaya tersebut dibagi menjadi beberapa kelompok menurut himpunan yang terdapat dalam vinaya pitaka, yaitu:

(1)        Sutta Vibhanga
Sutta vibhanga merupakan penggolongan pelanggaran yang dibagi ke dalam delapan kelompok yaitu: parajika, sanghadisesa, aniyata, pacitiya, nisagiya pacitiya, patidesaniya, sekkhiya, dan adikarana samatha. Yang semuanya berjumlah 227 sila untuk bhikkhu dan 311 untuk bhikkhuni. Pada dasarnya penggolongan dalam buku ini terdiri dari dua bab yaitu Bhikkhu sutta vibhanga dan bhikkhuni sutta vibhanga yang berisikan tentang suatu rangkaian peraturan untuk bhikkhu dan bhikkhuni. Dan untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada skema berikut ini:

Skema tentang bagian-bagian dari:

Patimokkha Sila

No
Jenis Pelanggaran (APATTI)
Vinaya Bhikkhu
Vinaya Bhikkhuni
1
Parajika
4
8
2
Sanghadisesa
13
17
3
Aniyata
2
-
4
Nisagiya Pacitiya
30
30
5
Pacittiya (Suddhika)
92
11
6
Patidesaniya
4
6
7
Sekkhiya Vatta
75
8
8
Adikarana Samatha
7
75



7
Jumlah
227
311

(2)        Khandaka-khandaka
Khandaka-khandaka dibagi menjadi dua:

A.   Maha Vagga

1.     Mahakhandaka yaitu mengenai peristiwa sesaat setelah mencapai penerangan sempurna  hingga terbentuknya sangha dan berbagai metode atau aturan-aturan untuk memasuki sangha
2.     Uposatha Khandaka yaitu mengenai pengumuman hari-hari dan pertemuan Uposatha serta berbagai jenis sima
3.     Vassupanayika Khandaka yaitu bagian mengenai memasuki Vassa baik itu peraturan maupun tempat tinggal selama musim hujan (vassa) dan cara pelaksanaannya.
4.     Pavarana Khandaka yaitu bagian mengenai tata cara upacara penutupan musim hujan (pavarana)
5.     Camma Khandaka yaitu bagian mengenai aturan untuk menggunakan pakaian ddan perabot hidup
6.     Bhesajja Khandaka yaitu bagian mengenai pemakaian obat-obatan dan makanan
7.     Kathina khandaka yaitu bagian mengenai peraturan yang berhubungan dengan upacara kathina dan pembagian jubah tahunan
8.     Civara Khandaka yaitu bagian peraturan yang berhubungan dengan pemakaian bahan jubah, aturan tidur dan bagi Bhikkhu yang sedang sakit
9.     Campoyya Khanddaka bagian mengenai kegiatan-kegiatan sangha yang patut dan tidak patut serta cara menjalankan keputusan sangha
10.Kosambiya Khandaka yaitu tentang perselisihan di kosambi di mana juga tercantum tentang cara penyelesaian perselisihan dalam sangha.

B.    Cula Vagga
Cula vagga terdiri dari beberapa aturan yaitu:
1.     Kamma khandaka bagian ini mengenai aturan-aturan untuk menangani pelanggaran-pelanggaran yang dihadapkan kepada sangha
2.     Parivasaka khandaka mengenai aturan untuk untuk menangani pelanggaran-pelanggaran yang dihadapkan kepada sangha
3.     Samuccaya khandaka mengenai aturan-aturan untuk menyelesaikan masalah yang timbul, dalam hal ini  adalah hukuman dan rehabilitasi setelah menjalani hukuman
4.     Penerimaan kembali seorang bhikkhu
5.     Aturan-aturan untuk mandi, berpakaian dan lain-lain
6.     Tempat tinggal, perabot, penginapan-penginapan
7.     Perpecahan
8.     Perlakuan pada berbagai golongan  Bhikkhu dan kewajiban para guru dan samanera
9.     Pengucilan dari patimokkha
10.Pentabisan dan petunjuk pada para Bhikkhuni
11.Sejarah sangha samaya pertama di rajagaha
12.Sejarah sangha samaya kedua di vesali

C.          Parivara
Berisi tentang penjabaran atau penjelassan dari pada sutta vibhanga dan khandaka-khandaka yang disertai dengan latar belakang dan cerita mengenai terjadinya aturan tersebut.

Selain dari beberapa penggolongan peraturan Vinaya yang terdapat dalam Vinaya Patimokkha yang dikenal sebagai Vinaya Pannati yang terdiri dari:
1.      8 anusanana: 8 peringatan, terdiri dari 2 kelompok bagian:
a.      Empat macam Nissaya-sumber kehidupan
Cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan seorang bhikkhu  tergantung pada apa yang disebut Nissaya-sumber kehidupan yaitu:
a)           Berjalan mengumpulkan makanan di jalan-jalan (Pindapata)
b)           Mengenakan jubah “Pacsukula” (kain-kain usang yang diambil dari kumpulan sampah/tempat-tempat penguburan)
c)            Tinggal di bawah pohon
d)           Menyembuhkan penyakit dengan obat-obatan yang direndam dalam air seni yang telah dibusukkan

b.     Empat macam Akaraniya kicca-empat macam pelanggaran berat:
a)           Melakukan hubungan kelamin/seks
b)           Mencuri harta milik orang lain
c)            Membunuh makhluk-makhluk hidup
d)           Menyombongkan diri bahwa telah mencapai tingkat tingkat perkembangan batin yang lebih tinggi daripada manusia biasa yang sebenarnya belum ia capai

2.     Tujuh apatti (pelanggaran) dan 1 Adhikarana Samatha
Ditinjau dari akibatnya, Apatti terbagi atas dua macam yaitu:
a.      Atekicca (incurable) yang merupakan pelanggaran yang tidak dapat diperbaiki lagi dan menyebabkan seorang bhikkhu terkalahkan, harus keluar dari kebhikkhuan (lepas jubah) dan tidak dapat ditahbiskan menjadi bhikkhu lagi sepanjang sisa hidupnya, merupakan pelanggaran berat (Garukhapati) yang terdiri atas parajika 4
b.     satekiccha (curable) yang mencakup pelanggaran yang dapat diperbaikidan mencakup:
v Pelanggaran sedang (majjhimapati)
Merupakan pelanggaran sanghadisesa 13 yang untuk pembersihannya  bhikkhu yang bersangkutan harus mengakui kesalahnnya di hadapan sangha (20 bhikkhu) dan harus melakukan manatta (mawas diri selama enam malam penuh di tempat tersendiri) untuk kemudian di rehabilitasi oleh sangha dengan minimal 20 bhikkhu
v Pelanggaran ringan (lahukapati)
Merupakan pelanggaran ringan yang untuk membersihkannya bhikkhu yang bersangkutan harus mengakui kesalahannya dihadapan seorang bhikkhu atau lebih dan mempunyai kategori berbeda-beda dari yang lebih berat sampai yang paling ringan: Thulacaya, Pacittiya, Patidesaniya, Dukha dan Dubabasit

Terdapat 2 jenis vinaya yaitu:
1.     Vinaya untuk umat berkeluarga (Gihi Vinaya): Pancasila –silagovada sutta
Sila untuk umat berkeluarga bersifat moral semata-mata yang digolongkan dalam pakati-sila

2.     Vinaya untuk para rohaniawan (patimokkha-sila)
Sila untuk bhikkhu selain bersifat moral juga berlaku sila yang khusus untuk cara hidupnya yang digolongkan dalam pannati-sila

Kukuccayanta Bhikkhu: bhikkhu yang dengan seksama/teliti tidak mau menerima sesuatu kecuali telah diperkenankan sang Buddha.

Apiccha Bhikkhu: bhikkhu yang sedikit keinginan yang merasa malu akan kelalaian dan tingkah laku bhikkhu lain yang tidak benar.

Sila-sila yang terdapat dalam sutta: sigalovada sutta, maha manggala sutta, parabhava sutta dan vagghapajja sutta.

Upasampada: penahbisan untuk menjadi seorang bhikkhu/bhikkhuni yang terdiri dari:
1.     Ehi Bhikkhu Upasampada
Penerimaan menjadi bhikkhu yang dilakukan sang Buddha sendiri dengan menyatakan: “ehi bhikkhu, svakato bhagavato dhammo cara brahmacariyam samma dukkhasa antakiriyaya” artinya “marilah bhikkhu dhamma yang telah di ajarkan dengan sempurna, jalanilah cara hidup suci untuk mengakhiri semua dukkha” (Vin.I.12). cara ini pertama kali dilakukan kepada lima orang pertapa (assaji, mahanama, kondana, baddiya, dan vappa).

2.     Tisarana Gamana Upasampada
Penerimaan menjadi bhikkhu dengan pernyataan berlindung kepada sang tri ratna oleh calon bhikkhu. Cara ini pertama kali dilakukan kepada 60 siswa arya sang Buddha.

3.     Natti Catuthakamma Upasampada
Penerimaan bhikkhu yang dilakukan oleh sangha (minimal 5 bhikkhu) di sima (suatu tempat dengan batas yang telah ditentukan). Cara ini ditetapkan sang Buddha setelah agama Buddha telah berkembang dan banyak orang yang ingin menjadi anggota sangha.

Terdapat 4  syarat yang harus dipenuhi untuk pelaksanaan upasampada:
a.      Vatthu-sampati (kesempurnaan materi atau calon), manusia berusia minimal 20 tahun, tidak cacat tubuh, tidak dikenal kriminal, tidak melanggar parajika (ketika menjadi bhikkhu sebelumnya)
b.     Parisa-sampati (kesempurnaan sangha): jumlah bhikkhu minimal 5 orang sesuai dengan jumalh yang ditetapkan sangha dan terdapat bhikkhu sebagai uppajjaya
c.      Sima-sampati (kesempurnaan sima): sima adalah lokasi yang mempunyai batas tertentu yang ditetapkan oleh vinaya. Upasampada dilakukan dalam sima. Bhikkhu yang tidak terlihat berada dengan jarak 1 hasta dari bhikkhu lain
d.     Kammavaca-sampati (kesempurnaan pernyataan): kesempurnaan pengusulan (nathi), pengumuman (Anusavana). Seorang ccalon bhikkhu diusulkan oleh upajaya dan diumumkan bahwa calon tersebut di terima menjadi bhikkhu tanpa ada yang keberatan.

Peraturan yang menonjol untuk para Bhikkhuni/bhiksuni  adalah delapan garudharma (peraturan keras) dan parajika ddelapan. Untuk peraturan bhiksuni Mahayana terdapat dalam Bhiksuni sangika-vinaya pratimoksa sutra yang diterjemahkan oleh fa hsien pada tahun 418 M. untuk vinaya bhiksuni (Theravada) terdapat dalam kitab vinaya pitaka bagian cullavagga X.

Delapan persyaratan keras (Garudharma) menjadi seorang bhikkhuni:
1.     Meskipun telah ditahbiskan selama 100 tahun, ia harus menghormati seorang bhiikkhu yang baru saja ditahbiskan
2.     Tidak boleh bervassa di tempat yang tak ada bhikkhu
3.     Setiap setengah bulan harus memohon nasehat dan teguran
4.     Setelah bervasa harus meminta teguran dan peringatan tentang apa yang dilihat, di dengar dan dicurigai (mengenai dirinya)
5.     Bagi yang melanggar vinaya menjalani hukuman (manata) selama setengah bulan di sangha bhiikhu/ni
6.     Setelah menjalankan masa percobaan selama 2 tahun, harus mohon ditahbiskan jadi seorang bhikkhuni
7.     Tidak boleh memarahi bhikkhu
8.     Tidak boleh memberi peringatan kepada seorang bhikkhu

10  Vinaya Kecil Antara Lain:
1.     Tidak menerima emas/perak (uang)
2.     Tidak makan bila tidak diundang/dipersilakan
3.     Tidak makan pada sore hari sampai keesokan paginya
4.     Tidak menyimpan garam dan menyampur dalam makanan
5.     Tidak minum selewat waktu yang telah ditentukan
6.     Tidak minum yang dimuaikan
7.     Tidak melakukan uposatha kamma
8.     Tidak ber-uposatha kamma yang terpisah dalam vihara besar
9.     Tidak menggunakan nisida (kain untuk bernamaskara) yang lebar
10.Tidak mengikuti pendiksa dalam upacara tradisi kuno apapun

c.      Vinaya Mahayana
Kitab-kitab vinaya dalam ajaran Mahayana pada umumnya bersumber pada catuh vinaya, yaitu:
1.     Sarvastivada vinaya (she Thung Lii) yang diterjemahkan ke dalam bahasa tiong hoa antara tahun 404-406 m oleh punnyatara dan terdiri dari 61 chuan
2.     Dharmagupta vinaya (She fen lii) yang diterjemahkan ke dalam bahasa tionghoa pada tahun 405 M oleh buddhajaya dan terdiri dari 60 chuan
3.     Mahasangika vinaya (ta sheng ce lii) diterjemahkan ke dalam bahasa tionghoa pada tahun 405 M oleh Buddha bandra, kitab ini terdiri dari 60 chuan
4.     Mahasangika vinaya (wu pu lu) diterjemahkan ke dalam bahasa tionghoa oleh buddhajiva pada tahun 423 M. Kitab ini terdiri dari 30 chuan

Kitab brahmajala sutta terdiri dari 58 pasal yang meliputi:
1.     Garuka pati (kesalahan besar), terdiri dari 10 pasal
2.     Lahukapati (kesalahan ringan) terdiri dari 48 pasal

PRATIMOKSA SILA
Peraturan sila
Bhiksu
Bhiksuni
Parajika
4
8
Sangha vasesa
13
17
Aniyata
2
-
Naihsargika-prayascittika
30
30
Prayascitta
90
178
Pratidesaniya
4
8
Siksa karaniya
100
100
Adhyakarana-samadha
7
7
Jumlah
250
348

Perbedaan Vinaya Theravada Dengan Mahayana

Bila dilihat dari beberapa uraian di atas tentang vinaya baik itu dari Theravada maupun Mahayana bisa kita temukan beberapa perbedaan antara vinaya Theravada (pali) dan vinaya Mahayana

Jenis Apatti (Pelanggaran)
Bhikkhu
Bhiksu
Bhikkhuni
Bhiksuni
Parajika
4
4
8
8
Sanghadisesa/sanghavasesa
13
13
17
17
Aniyata
2
2
-
-
Nissagiya/naihsangika
30
30
30
30
Paccitiya/prayascitta
92
90
166
178
Patidesaniya/pratidesaniya
4
4
8
8
Sekhiyavatta/siksa karaniya
75
100
75
100
Adhikarana/adhykarana
7
7
7
7
Jumlah
227
250
311
348



(Sansekerta) yaitu:
Terdapat juga perbedaan persepsi yang mendasar yaitu:
Masalah
Theravada
Mahayana
Bahasa ajaran Buddha
Magadha (pali), Buddha sekarang (sakyamuni)
Sansekerta Buddha lampau, sekarang dan akan datang
Aturan makan
Boleh makan daging, 3 syarat daging bersih (Tikoti parisudi mamsa) dalam jivaka sutta:;
1.dia tidak melihat
2.dia tidak mendengar
3.dia tidak menduga daging tersebut disediakan untuknya
Tidak makan daging,
sayuranis-vegetarian, dalam boddhistva sila (Mahasihananda sutta)
Pembebasan
Makan sebelum tengah hari para arahat mencapai nibbana
Bodhisattva melaksanakan 10 paramitta sebelum mencapai nibbana

Abhisamacara: peraturan latihan (Sikkhapada)
Yang membawa pada perilaku luhur, merupakan prasyarat untuk pencapaian batin yang tinggi atau kebiasaan tingkah laku yang baik

Buddhapannati: peraturan untuk mencegah kelakuan yang salah dan memperingatkan para bhikkhu akan pelanggaran yang mungkin dilakukan.

Seorang bhikkhu harus mematuhi bhikkhu sila yaitu empat kesucian moral bhikkhu (Caturparisuddhi Sila/Cataro Silakhanda):
1.     Patimokkha samvara sila: moralitas yang terdiri dari atas menahan diri berkenaan dengan tata tertib bhikkhu (227 patimokka sila)
2.     Indriya-samvara sila: moralitas yang terdiri atas menahan diri dalam indera
3.     Ajivaparisuddhi sila: moralitas yang terdiri atas kesucian penghidupan
4.     Paccaya-sannissita-sila: moralitas yang terdiri atas 4 macam kebutuhan pokok para bhikkhu



Menurut sang Buddha ada 4 jenis bhikkhu di dunia ini (cunda sutta, sutta nipata):
1.     Maggajina: penakluk jalan (sang Buddha)
2.     Maggadesaka: guru dari jalan
3.     Maggajiva: yang hidup pada jalan
4.     Maggadusaka: yang mengotori jalan

Agariya vinaya (vinaya untuk para perumah tangga=gharavasaa) terdiri dari:
1.     Varitta-sila (aspek negatif): menjauhkan pikiran dari objek yang bukan kebaikan. Misal: pancasila dan athangika uposatha (atthangikasila)
2.     Caritta sila (aspek positif): memusatkan seluruh pikiran pada kebaikan, agar dapat semaksimal mungkin dapat melakukan kewajiban bermoral. Misal: Vagghapaja sutta, mangala sutta, sigalovada sutta dan parabhava sutta.

Anagariya vinaya (vinaya untuk para bhikkhu=pabbajita), terdiri dari Adhibrahmacariyaka-sila (patimokkha) dan Abhisamacarika-sila.

Ada empat cara penghormatan yang diperkenankan oleh sang Buddha:
1.     Vandana: berlutut
2.     Utthana: berdiri menyambut
3.     Anjali: merangkapkan kedua telapak tangan untuk mneghormat
4.     Samiccikamma: cara untuk kerendahan hati

Pannati Dan Apatti
Peraturan yang dibuat oleh sang Buddha di sebut pannati
Pelanggaran terhadap peraturan latihan hingga seseorang dapat hukuman disebut appati

Ada enam akar yang langsung menimbulkan apati yaitu:
a.      Jasmani: Bhikkhu minum alkohol, meskipun ia tak mengetahui
b.     Ucapan: membaca doa bersam-sama umat awam
c.      Jasmani-pikiran: bhikkhu mencuri
d.     Ucapan-pikiran: bhikkhu menyuruh orang lain mencuri
e.      Ucapan-jasmani: bhikkhu menghina orang
f.       Ucapan-jasmani-pikiran: bhikkhu mencuri, juga menyuruh orang lain juga untuk mencuri

Ada enam kondisi yang menimbulkan apati:
1.     Alajjhita: melakukan tanpa malu
2.     Ananata: melakukan tanpa diketahui
3.     Kukuca-pakataka: melakukan dengan keragu-raguan tetapi dilakukan dengan berulang-ulang
4.     Dilakukan karena merasa boleh, padahal tidak boleh
5.     Dilakukan dengan pikiran boleh, padahal tidak boleh
6.     Dilakukan dalam keadaan bingung atau linglung. Misalnya: madu boleh disimpan selama 7 hari, tetapi lupa kapan mulai disimpannya.

Di tinjau dari berat ringan akibat pelanggaran, maka apatti ada tiga tingkat:
1.     Kesalahan Berat (Garukha Pati)
Seorang bhikkhu yang melakukan kesalahan ini menyebabkan gugur kebhikhuanya walaupun tidak diketahui oleh orang lain (Parajika)

2.     Kesalahan Ringan (Majhimapatti)
Seorang bhikkhu yang melakukan kesalahan ini hanya dapat diselesaikan oleh sangha dalam sanghakamma yang terdiri dari paling kurang 20 orang bhikkhu. Sanghadisesa termasuk dalam kesalahan ini.

3.     Kesalahan Ringan (Lahukapatti)
Kesalahan yang hanya dapat diselesaikan dengan pengakuan dihadapan bhikkhu lain dengan tekad akan lebih berhati-hati. Thulaccaya, pacittiya, patidesaniya, dhukkata dan duchasita termasuk dalam kesalahan ini.

Apatti-apatti lainnya adalah:
1.     Lokavajja (Pelanggaran Peraturan Ilmiah), perbuatan yang dipandang salah, yang dilakukan oleh gharavasa dan pabbajita yang timbul dari akusala citta. Misalnya mencuri, membunuh dan lain-lain
2.     Pannati Vajja (Pelanggaran Peraturan Yang Dirumuskan), perbuatan salah yang berlaku bagi bhikkhu. Walaupun perbuatan serupa yang dilakukan oleh gharavasa, namun mereka tidak dipandang melakukan kesalahan. Misal: seorang bhikkhu tidur di atas kasur kapas. Bagi gharavasa hal tersebut bukan termasuk apatti, tetapi bagi bhikkhu perbuatn itu merupakan apati.

Pola tentang tingkah laku yang harus dilaksanakan oleh para bhikkhu sesuai dengan waktu, tempat, pekerjaan dan orang/pribadi disusun dalam kelompok vinaya yang di sebut vatta (tugas).

Seorang bhikkhu yang telah melaksanakan sepenuhnya latihan vatta disebut vatta sampanno.

Seorang bhikkhu yang telah sempurna dalam moral disebut sila –sampanno.
Ada  3 [tiga ] kelompok tugas [vattta] pokok dari para bhikkhu :
1. Kiccavatta     : tugas-tugas yang harus dilakukan .
2. Cariyavatta    : tingkah laku yang harus dilakukan.
3. Vidhivatta      : pelaksanaan segala sesuatu yang harus dilakukan.

1.     Kiccavatta [tugas yang harus dilakukan] yaitu :
a.      Seorang sadhiviharika harus merawat upajjhaya –nya dengan segala cara selama ia hidup bersamanya.
b.     Upajjhaya harus bermurah hati kepada saddhiviharika selama tergantung padanya.
c.      Berprilaku patut sebahai seorang tamu.
d.     Penghuni menyambut tamu secara layak dan baik.               
e.      Bhikkhu yang pergi untuk tinggal di tempat lain harus berprilaku baik.
f.       Bhikkhu yang mengumpulkan makanan berprilaku layak dan sesuai tradisi.
g.      Bhikkhu yang menyantap makanan berprilaku  layak dan sesuai tradisi.

TUGAS SADDHIVIHARIKA - UPAJJHAYA
Saddhiviharika  Kepada Upajjhaya
Upajjhaya Kepada Saddhiviharika
1. Merawat upajjayanya
1. Mendidik sadhiviharika
2. Menerima instruksi/pesan
2. Membantu kebutuhannya
3. Mencegah penyimpangan pada upajjayanya yang akan atau telah terjadi
3. Melindungi hidup penyimpangan yang akan atau telah terjadi
4. Berusaha agar upajjayanya cerita
4. Memandang saddhiviharika sebagai anaknya sendiri
5. Menghormatinya

6. Jika akan berpergian izin terlebih dahulu

7. Jika upajjayanya sakit, harus dengan sabar merawatnya


2. Cariya Vatta (Tingkah laku yang harus dilakukan):
a.      Para bhikhu dilarang menginjak kain putih yang digelar di tempat mereka di undang
b.     Jika bhikkhu yang tidak mempertimbangkan baik-baik sebelumnya, maka ia tidak boleh duduk di atas sana
c.      Di larang duduk di atas asana panjang dengan seorang wanita
d.     Jika bhikkhu yunior maka bhikkhu senior tidak boleh menyuruh mereka pergi atau pindah
e.      Jika istirahat harus menutup pintu
f.       Dilarang melempar kotoran, air kencing, sampah keluar tembok atau melalui pagar
g.      Dilarang pergi melihat tari-tarian, menyanyi dan main musik


3.      Viddhi Vatta (Pelaksanaan segala sesuatu yang harus dilakukan):
a.      Cara mengenakan jubah
b.     Mangkok disimpan di bawah tempat tidur atau bangku
c.      Berjalan satu-persatu sesuai dengan peringkat vasa
d.     Jika bhikkhu akan melakukan vinayakamma, ia harus memakai utarasangha menutupi bahu kiri, lalu berjongkok dan mneghormat.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar